Babak Baru Pariwisata Indonesia

Pariwisata Indonesia sepertinya menjalani babak terbaru. Di bawah komando Presiden Jokowi, target 20 juta wisatawan mancanegara pada 2019 dipatok. Menteri yang mantan CEO pun dipilih. Pariwisata akan disulap menjadi mesin pengeruk uang yang handal, sekaligus sebagai alat penting dalam memamerkan citra Indonesia di mata dunia.

Sejak dipilih Oktober lalu, Menteri Pariwisata membuat beberapa terobosan. Misalnya pembebasan visa untuk turis dari beberapa negara, pengembangan jalur yacht, penguatan brand Wonderful Indonesia, strategi pemasaran DOT (Destination, Origin, Time), prioritas pembangunan destinasi 2015-2019, dan sebagainya. Semua itu adalah rencana yang disusun dengan mata terarah pada target 20 juta wisman di tahun 2019.

Apa yang dilakukan Kemenpar dan yang diinginkan Presiden adalah logika yang pantas untuk negeri secantik Indonesia. Dengan sumber daya alam yang menempati peringkat ke-6 sebagai salah satu indikator tourism competitiveness (tahun 2013), Indonesia harusnya ada di papan atas destinasi pariwisata dunia. Namun, nyatanya daya saing pariwisata nasional kita hanya ada di ranking ke-70. Apa yang salah?

Dalam data World Economic Forum tahun 2013 lalu, tiga indikator yang paling melemahkan posisi Indonesia adalah infrastruktur pariwisata, infrastruktur ICT, dan kebersihan/kesehatan. Mendapati fakta itu tentu membuat kita mengangguk-angguk kepala tanda setuju, bukan? Tidak mengejutkan sama sekali.

Tapi sasaran sudah kadung ditentukan. Target 20 juta wisman pada 2019 berbanding dengan 9,4 juta tahun lalu, sanggupkah? Optimisme tentu menjalar seisi gedung Kemenpar mengingat roda pemerintahan anyar masih belum setahun. Dengan gairah itu, pemasaran pariwisata menjadi prioritas. ‘Apapun yang terjadi, 20 juta wisman harus masuk ke Indonesia empat tahun lagi’, saya membayangkan Pak Menpar berkata seperti itu dengan lidah berapi-api. Bahkan, konon anggaran khusus untuk pemasaran naik empat kali lipat menjadi 1,2 triliun pada tahun 2015 ini.

Seperti saya sebut sebelumnya, target 20 juta wisman adalah angka yang wajar. Malaysia dan Thailand saja sudah melebihi angka 25 juta wisman dan mungkin sedang menyasar 30 juta wisman dalam beberapa tahun ke depan. Namun, ambisi itu juga harus diimbangi dengan pemahaman kritis terhadap pariwisata.

Target Pak Jokowi mau tak mau membuat strategi pariwisata nasional akan sangat ekonomistis dan business-oriented. Industri pariwisata akan dimajukan untuk mendorong angka 20 juta itu terwujud. Memang pariwisata sudah lama dipandang sebagai alat yang penting dalam meningkatkan perekonomian, tapi jangan lupa bahwa ia juga peristiwa sosial budaya yang amat terkait dengan masyarakat dan lingkungan.

Memasarkan pariwisata Indonesia sederas mungkin ke dunia luar sah-sah saja. Tapi konsep ‘sustainable’ harus diperhatikan dan dijadikan komitmen bersama para stakeholder pariwisata nasional. Term ‘sustainable’ memang salah satu kata terpopuler di seperempat awal abad ini, mungkin menggantikan popularitas kata ‘globalisasi’ yang menjadikan konsep ‘sustainable’ naik ke permukaan. Maka, sustainable tourism adalah kunci.

Sudah sering kita lihat pertarungan antara industri/bisnis dan masyarakat/lingkungan. Kita juga sudah tahu siapa yang lebih sering kalah dan apa dampaknya bagi kehidupan di bumi ini. Pariwisata memang salah satu cara terbaik bagi manusia untuk mengenali kehidupan, baik tentang dirinya maupun dunia. Namun, ia bisa jadi salah satu penyebab kenapa budaya tradisional tersingkir dan lingkungan rusak.

Tentu pendekatan yang ekonomistis itu harus diimbangi pendekatan yang lebih environmentalis. Bukan apa-apa, jika terlalu gegabah memaksakan angka keramat 20 juta wisman tadi, bisa-bisa keseimbangan sosial, budaya, dan ekologi di destinasi-destinasi pariwisata justru akan goyah. Dan yang terjadi setelahnya adalah penyusutan nilai sumber daya. Jangan sampai itu terjadi.

Untungnya, Pak Menpar yang sekarang tampaknya sangat berbasis pada riset dan data. Semua kebijakannya yang berorientasi bisnis dan industri tadi didasarkan pada angka-angka statistik. Seharusnya, Pak Menpar juga mempertimbangkan riset-riset kualitatif tentang kondisi sosial, budaya, dan lingkungan agar pemahaman yang menyeluruh bisa didapatnya sebelum mengambil putusan.

Pada akhirnya, babak baru pariwisata Indonesia ini patut diperhatikan. Ia akan sangat menentukan arah dan laju tahun-tahun setelahnya. Sepuluh tahun lagi saya ingin sekali menulis lagi tentang pariwisata nasional dalam situasi Indonesia sudah mengalahkan Thailand dan Malaysia sebagai raja di Asia Tenggara.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s