Celoteh Sore

Aku memikirkan sebuah komplek dengan mobil-mobil tua di tiap rumahnya, berjajar bagaikan semut. Sedang rumah-rumah itu tanpa pagar, tanpa kawat, tanpa tembok tinggi yang merayap ke awan, tanpa tanaman hias yang menghalang-halangi mata. Aku pikir, aku merindukan sebuah jaman.

Aku memikirkan sebuah jalan yang lengang dengan satu-dua kendaraan melintas. Tidak ada klakson dan keringat, emosi dan kata-kata kasar. Di sampingnya tak ada gedung-gedung mencakar langit, tak ada reklame yang merusak pemandangan, tak ada apartemen dan mal. Aku rasa, aku merindukan sebuah pulau.

Aku memikirkan sebuah kapal yang jangkarnya baru diangkat anak-anak berkulit hitam terbakar matahari. Sepoi angin mengibas rambut, desir ombak memecah sunyi. Tidak ada keluh di kapal itu, tidak ada kemarahan pada jadwal kereta, tidak ada ketakutan pada bos. Aku duga, aku merindukan lautan.

Aku memikirkan sebuah buku tentang satu motor dan dua pengelana. Menjelajah pulau berdebu, menerabas hutan dan gurun, menikmati keindahan yang tak dihiraukan orang-orang kota yang sibuk dan payah. Kedunya berbagi cerutu dan marijuana, menghisap sumsum kehidupan. Jelas, aku rindu perjalanan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s