90-an

Term ’90-an’ hari ini terasa begitu menjijikkan. Saya menyebutnya, secara sok pintar, sebagai komodifikasi terhadap romantisme. Masyarakat (terutama generasi millenial) seperti dipasung dengan rupa-rupa kenangan terhadap era 1990-an, diajak untuk kembali mengenang masa kecil mereka yang indah (dibanding dengan masa dewasa yang, ya gitulah), tapi pada akhirnya selalu klise: kita dipaksa untuk membeli.

Awalnya, ketika euforia terhadap 90-an merebak beberapa bulan lalu, saya senang-senang saja. Lucu juga melihat hal-hal dari masa kecil yang indah itu: permen, mainan, tokoh, lagu, acara tv, mobil, iklan, nyaris apapun. Namun lama kelamaan hal tersebut terasa berlebihan. Tadinya hal itu mirip seperti hujan setelah 30 hari kemarau, tapi hujan akhirnya tak pernah berhenti dan yang ada adalah banjir yang memuakkan.

Era ini memang ajaib, apa saja bisa dikomodifikasi. Saya yakin semua hal bisa disulap jadi sumber uang, mulai dari rambut Cristiano Ronaldo sampai tai kucing. Apalagi cuma romantisme soal era 90-an. Meski begitu, apa yang terjadi sebenarnya tak pernah saya sangka. Ternyata industri budaya kita sedemikian banalnya, industri media kita sebegitu dangkalnya, dan industri percetakan kita masih saja memproduksi sampah.

Sumber kegaduhan ini adalah Generasi Y sendiri, generasi yang konon akan mengubah dunia di masa depan. Fenomena ini membuat saya banyak berefleksi tentang generasi yang saya sendiri termasuk di dalamnya. Generasi ini memang hidup dalam peralihan yang menyakitkan antara analog dan digital, sehingga yang terjadi adalah kenorakan yang bombastis. Bahkan kadang kita merasa harus nge-tweet saat sedang berak.

Jualan romantisme ini juga salah satu hasil dari kenorakan itu. Setelah lihai memakai alat-alat canggih dan menjadi terdigitalisasi sepenuhnya, kita lalu lari ke masa lalu dan mencari apa-apa yang indah untuk dikenang. Semua itu kita lakukan dengan barang-barang ‘pintar’ yang telah nyaman kita gunakan. Jadi kita sebenarnya mau apa? Analog atau digital? Karena bingung, kita akhirnya linglung secara permanen.

Itu yang mungkin kemudian dimanfaatkan dengan jeli oleh industri budaya. Melalui corong-corong penyebar wacana, kita ditodong untuk mengenang era sebelum Millennium. Perasaan kita diaduk-aduk sedemikian rupa hingga sampai tahap ‘aku ingin kembali ke masa itu’. Sebelum ucapan itu usai, industri budaya sudah siap dengan solusinya, yaitu produk-produk budaya yang didesain semirip mungkin dengan model 90-an.

Kita terbuai. Pertama, oleh konsumerisme. Kedua, oleh kenangan. Ketiga, oleh konsumerisme kenangan. Luar biasa rapuhnya kita, bukan?

Advertisements

3 thoughts on “90-an

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s