Voluntourism: Sebuah Nukilan

Pada mulanya adalah senang-senang, lalu kehampaan. Maka, voluntourism muncul. Ia lahir dari kebosanan akan perjalanan yang ‘gitu-gitu aja’, yang makin lama makin terasa hedonistik, yang mungkin dianggap tak punya fungsi sosial budaya selain soal keren-kerenan.

Setiap pejalan pasti pernah merasakan fase-fase di atas. Pada mulanya kita suka jalan-jalan ke tempat-tempat yang baru hanya karena itu aktivitas yang menyenangkan untuk dilakukan. Lambat laun beberapa akan jatuh cinta pada aktivitas itu dan mengulanginya secara kontinyu, bahkan dijadwalkan setiap tahun atau bulan. Kemudian, kita bosan. Puluhan tempat kita langkahi, tapi terasa ada yang kurang. Terasa ada yang tak pada tempatnya. Kita lantas sadar bahwa jalan-jalan sebagai eskapisme atau hiburan saja tidaklah cukup. Kita mulai mencari sesuatu yang lebih dari hedonisme sesaat. Kita perlahan melangkah ke fase berikutnya: dari awalnya jalan-jalan untuk diri sendiri, menjadi jalan-jalan bukan hanya untuk diri sendiri.

Voluntourism diperkirakan muncul pada tahun 1950-an atau 1960-an di Amerika dan Eropa. Dia lahir dari kejenuhan akan pariwisata arus utama dan respon atas pariwisata model 3S (sun, sea, sand). Secara kategoris, voluntourism biasa dimasukkan sebagai suptipe dari alternative tourism. Karena sifatnya yang seakan menentang mass tourism ini, voluntourism dan bentuk alternative tourism lain (seperti ecotourism, rural tourism, wildlife tourism, dan pro-poor tourism) kerap dikaitkan dengan generasi baby-boomers yang doyan memberontak itu. Beberapa studi mengaitkan voluntourism dengan generasi baby boomers yang tidak puas dengan kehidupan mereka di tempat asalnya dan berusaha mencari nilai kehidupan di tempat lain dengan melakukan perjalanan dan membantu masyarakat sekitar.

Konteks waktu di atas penting untuk menengok voluntourism sebagai sebuah proses yang tidak ahistoris. Ia mengandung sejarah dan kegalauan masyarakat generasi sebelum kita. Dari situ juga bisa dilihat bahwa voluntourism ialah lanjutan dari ‘the search of authentic’ yang gagal diwujudkan melalui mass tourism yang kian lama dirasa kian palsu. Voluntourism adalah jawaban dari kegalauan tersebut. Namun, pada setiap jawaban selalu mengundang keraguan dan pertanyaan-pertanyaan baru.

Kritik tajam kepada perilaku voluntourism mencuat ke permukaan ketika voluntourism dirangkul oleh industri pariwisata yang menganggapnya sebagai pasar baru. Maka, voluntourism menjadi produk industri. Ia dirancang sedemikian rupa menjadi barang dagangan yang laku dibeli oleh para pejalan yang ingin merasakan perjalanan dengan sensasi berbeda. Karena melalui proses rancangan oleh industri pariwisata, voluntourism kemudian dinilai sama saja dengan mass tourism: tidak autentik. Meski begitu, tak bisa dipungkiri bahwa industri berperan besar dalam mengembangkan voluntourism dan menyebarkannya ke pelosok dunia.

Umumnya, kegiatan voluntourism disusun oleh organisasi-organisasi di negara-negara maju dan ditujukan kepada negara-negara berkembang, seperti di Asia dan Afrika. Selain menyediakan sarana bagi masyarakat negara maju untuk berwisata dan berinteraksi dengan masyarakat dunia lainnya, voluntourism juga menjadi wadah untuk mengembangkan negara-negara dunia ketiga. Dalam hal ini, secara optimistik, voluntourism dilihat sebagai kegiatan positif yang (1) menjadi jembatan interaksi antarwarga dunia demi terwujudnya toleransi terhadap ras, suku, dan agama yang berbeda dan (2) memberi peluang bagi membaiknya kehidupan ekonomi, sosial, dan budaya di suatu daerah yang belum berkembang.

Sementara dari sisi yang lebih pesimistik, voluntourism dinilai dangkal karena banyak proyek voluntourism yang tidak memberi sumbangsih apa-apa, apalagi yang dilakukan dalam waktu yang relatif singkat. Akibat kedangkalan itu, voluntourism juga dianggap bisa melebarkan jarak antara ‘kita’ dan ‘mereka’, antara ‘Barat’ dan ‘Timur’, antara ‘kulit putih’ dan ‘kulit berwarna’. Beberapa kritik lain menuding voluntourism bukanlah kegiatan yang tulus dan altruis, karena para pelakunya justru bertujuan untuk mengembangkan kualitas dirinya dan mendongkrak curriculum vitae. Oleh karenanya, tak jarang yang mencap voluntourism sebagai bentuk lain dari eksploitasi masyarakat di suatu daerah.

Lalu, bagaimana dengan voluntourism di Indonesia? Sebagai salah satu negara berkembang, Indonesia kerap menjadi tempat proyek voluntourism diadakan organisasi dari negara-negara maju. Proyek yang diadakan beragam fokusnya, mulai dari persoalan lingkungan (konservasi dan restorasi), binatang (pelestarian satwa langka), pendidikan (mengajarkan bahasa Inggris atau penyaluran buku), pertanian, laut, pengembangan teknologi dan energi terbarukan, dan sebagainya.

Meski identik dengan intervensi masyarakat negara maju terhadap masyarakat negara berkembang, voluntourism bisa juga diperkecil ke ruang lingkup yang lebih sempit. Misalnya, intervensi organisasi yang berpusat di kota besar (seperti Jakarta, Surabaya, dsb) terhadap persoalan sosial, budaya, dan lingkungan di daerah-daerah yang belum berkembang, seperti di Indonesia Timur. Dalam konteks Indonesia, voluntourism bisa menjadi sangat berarti untuk menciptakan interaksi antarmasyarakat yang berbeda latar belakang sosial dan budaya. Harapannya, voluntourism bisa menumbuhkan rasa saling memiliki di antara anak bangsa tanpa memandang apa suku, agama, dan warna kulitnya. Dengan itu pula jurang kesenjangan antardaerah bisa terkikis secara perlahan.

Namun, voluntourism tak harus melulu soal relasi masyarakat maju dan masyarakat berkembang. Yang paling utama adalah keinginan dari pejalan untuk terlibat dalam upaya pemecahan masalah di suatu komunitas. Meski pun konsep voluntourism mungkin rumit, praktiknya sederhana saja. Upaya komunitas pejalan untuk membagikan buku saat jalan-jalan bisa jadi masuk kategori voluntourism. Demikian pula, program pengembangan pariwisata Flores yang beberapa waktu lalu sempat dilakukan sebuah organisasi swadaya. Bahkan, Kuliah Kerja Nyata yang dilakukan mahasiswa bisa dianggap sebagai voluntourism karena mereka melakukan perjalanan ke suatu daerah dan terlibat dalam pemecahan persoalan sosial disana.

Kegiatan voluntourism bisa dilakukan baik terorganisir dan melibatkan komunitas, maupun sporadik dan individual. Misalkan komunitas yang mendirikan perpustakaan di Sumbawa untuk meningkatkan pendidikan anak-anak Sumbawa, tentu kegiatan ini perlu perencanaan matang dan membutuhkan kerja organisasi. Sedangkan contoh voluntourism yang dilakukan secara individual dan sporadik adalah seorang traveler yang pergi ke Wakatobi dan membawa banyak buku dan dibagikan kepada anak-anak disana, kegiatan seperti ini tidak perlu organisasi dan perencanaan yang matang.

Pada intinya adalah melakukan perjalanan sambil membantu orang lain. Thabit Alomari dalam tesisnya mendefinisikan voluntourism dengan sangat indah, katanya: “voluntourism adalah gabungan dua passion paling hebat di hidup ini. Dia mengombinasikan kebutuhan untuk menjelajahi dunia dan hasrat menolong orang lain yang membutuhkan di berbagai tempat paling terlantar dan miskin di dunia.”

Kendati demikian, cara pandang yang kritis dalam memandang voluntourism mutlak diperlukan. Dalam konsepnya, voluntourism sangat mulia. Yang menjadikannya banal adalah industri dan konsumsi buta terhadap komoditas-komoditas budaya yang eksentrik. Kritisme ini penting untuk mencegah aktivitas voluntourism yang palsu dan dangkal, yang dampaknya justru bisa merugikan komunitas lokal dan kebersamaan sebagai anak-anak Ibu Pertiwi. Penting untuk dicatat bahwa yang penting dalam voluntourism adalah memberdayakan, bukan memperdaya, komunitas lokal di tempat-tempat yang disinggahi.

Oleh karena itu, berjalanlah dan ingat bahwa seharusnya bukan kita saja yang pantas merasakan kesenangan.

Tulisan ini dipengaruhi berbagai referensi di bawah ini:

Fair trade learning: Ethical standards for community-engaged international volunteer tourism (Hartman, Eric et.al)

Volunteerism: An Evolving Notion (Aureley, Duray)

Volunteer tourism: Experiences that make a difference (Wearing, Stephen)

Motivation and sociocultural sustainability of voluntourism (Alomari, Thabit)

Information Hippies, Google-Fu Masters, and Other Volunteer Tourists in Thailand: Information Behaviour in the Liminoid (Reed, Kathleen)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s