Big Sur

Bagi saya Big Sur adalah sebuah epik. Tak banyak cerita yang membuat bulu kudukmu merinding saking bagusnya atau matamu berkali-kali ingin menangis karena indahnya (bukan karena sedih). Big Sur, yang merupakan semi-autobiografi Jack Kerouac, berkisah tentang banyak hal dalam kehidupan sang raja beatnik. Jika sudah membaca On The Road (juga Dharma Bums), membaca Big Sur seperti membaca proses perubahan pada watak Kerouac.

Big Sur adalah daerah cantik di garis pantai California. Ketik frasa Big Sur pada Google Images dan yang akan muncul adalah gugusan bukit dan laut lepas, mengingatkan saya pada Lombok sebelah utara. Tadinya saya pikir Big Sur akan menceritakan perjalanan Kerouac kesana. Namun ini bukan kisah tentang perjalanan gila-gilaan seperti dalam On The Road. Ini ialah cerita tentang pengarang sukses cum tenar yang ingin menyendiri dan kembali ke dekapan alam.

Cerita diawali dengan Kerouac yang mengeluh tiap hari rumahnya diganggu puluhan jurnalis dan anak muda yang penasaran dengan sisi lain kehidupan si raja beatnik. Ketenaran, seperti dipercayai banyak pengarang, adalah hal terburuk dalam sebuah proses kreatif. Kerouac mengalami dan menyadari itu, maka ia ingin melarikan diri dari sorot kamera wartawan dan teriakan pemujanya. Ia kemudian pergi ke Big Sur, ke kabin milik kawannya.

Alur cerita dalam Big Sur sebenarnya biasa saja. Kerouac pergi ke Big Sur, menginap tiga pekan, lalu bosan dan kembali ke kota. Lantas ia bersama teman-temannya kembali ke Big Sur beberapa hari, lalu pulang lagi ke kota. Lalu ia kembali untuk kali ketiga bersama beberapa kawannya lagi dan cerita selesai. Yang indah dan ajaib dalam Big Sur, seperti biasa, adalah ide yang ditumpahkan Kerouac, terutama saat ia sendirian di Big Sur.

Banyak hal dipikirkan dan ditumpahkan Kerouac. Mulai dari perilaku turis-turis Amerika yang mengunjungi Big Sur, perubahan budaya perjalanan di Amerika yang mulai ragu untuk memberi tumpangan pada hitchhiker, kematian kucing peliharaan Kerouac yang membuatnya depresi, persahabatannya dengan Neal Cassady yang disadarinya muncul karena keduanya sama-sama Katolik yang taat, dan beragam ide lain.

Saat membacanya, saya seperti mengenal Kerouac lebih dalam. Saya merasa tahu persis ide itu lahir dari sosok yang seperti apa. Ide-ide itu hanya bisa lahir dari kepala seseorang yang terbiasa merenung, berkelana seorang diri, kecewa dengan kehidupan, dan menghayati ajaran Buddhisme tanpa melupakan dogma Kristiani. Big Sur dengan kesederhaannya menghadirkan kompleksitas yang sangat memesona.

Di bagian-bagian terakhir, Kerouac mengisahkan dimana dirinya diliputi kekalutan dahsyat. Ia benci dan kecewa dengan dirinya sendiri, ia sedih dan seperti tercerabut dari sekitarnya. Lantas ia tak bisa tidur karena dihantui anxiety yang tak tertahankan. Bagian tak bisa tidur ini mengingatkan saya pada malam pertama saya di Sumba. Saya terjaga sepanjang malam karena diliputi kegelisahan yang aneh dan tak biasa.

Namun, segala kegelisahan pada diri Kerouac itu akhirnya hilang dalam satu momen yang ajaib. Dia tertidur di kursi dan mendadak segalanya menjadi normal. Segala bayangan buruk di kepalanya sirna. Ia menjadi enteng dan bahagia seperti sediakala. Big Sur akhirnya ditutup dengan sempurna: something good will come out of all things. And it will be golden and eternal just like that. There’s no need to say another word.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s