Pohon

Minggu kemarin, saya sangat menikmati kotbah pendeta tamu di gereja saya. Bukan apapun terkait teologi yang membuat saya tertarik. Ia berbicara tentang pohon. Itu yang membuat saya menikmati kotbah yang lumayan panjang itu. Sungguh, mungkin hanya sedikit kotbah yang lebih menarik (bagi saya) dibanding kotbah Minggu lalu.

Si pendeta berkisah tentang sebuah pohon di masa kecilnya. Pada titik itu, ia sedang bernostalgia dan terbang ke masa lampau. Ia membangun narasi romantik tentang masa kanak-kanaknya di sebuah desa di Wonogiri. Ia bercerita dengan nada yang nostalgik, tapi tanpa terjebak pada jeruji masa silam. Ia lantas kembali ke masa kini dengan sebuah pesan.

Di desanya saat masih kecil, ada sebuah pohon di tengah jalan yang dianggap milik umum karena tidak berada di depan rumah siapa-siapa. Karena dimiliki bersama setiap orang berhak mengambil buahnya, asal tidak dibawa pulang dan langsung ditelan di tempat. Kemudian ia bercerita tentang susahnya ia mengambil buah pohon itu sebagai anak kecil.

Jika orang dewasa bisa dengan mudah mengambil buah pohon itu dengan galah, anak-anak harus melempar sandal atau batu untuk menikmati buah. Singkat cerita ia mengambil pelajaran dari cerita masa kecilnya itu. Bahwa pohon itu tetap berbuah meski terus dilempari batu dan dipreteli orang-orang. Pohon itu terus berbuah betapa pun ia terus terluka.

Tapi sejatinya bukan pesan itu yang membuat saya tertarik. Saya suka kotbah ini karena mengingatkan saya pada pohon lain. Kali ini, pohon yang saya maksud berasal dari masa kecil saya. Ia terletak tak terlalu jauh dari rumah, di dekat tempat saya menunggu bus sekolah saat masih SD dulu. Pohon itu mengandung banyak cerita dan kenangan.

Dulu sambil menunggu bus, ayah saya kerap mengukir nama saya, kakak, dan adik saya di sebuah pohon. Dengan paku atau kunci atau apapun, ia menulis nama anak-anaknya. Kami pun lantas juga mengikuti kegiatan mengukir pohon itu. Seingat saya sampai saya SMA, pohon itu masih ada dan masih menyimpan bekas ukiran-ukiran yang pernah kami buat.

Kemudian pada suatu hari, saya mendapati pohon itu ditebang. Ada yang remuk di dada saat itu. Pertama, karena sudah terlalu sering saya mendengar cerita pohon ditebang. Kedua, karena pohon itu menyimpan memori khusus bagi saya. Pohon itu mengingatkan saya pada masa yang indah di belakang sana saat saya belum 165 sentimeter.

Saya kira pohon di masa kecil saya dan pak Pendeta memiliki nilai yang sama. Ia adalah nostalgia dari masa dimana kebebasan tak perlu dibuat-buat dengan mengutip kalimat Che Guevara, dimana udara bersih dan langit biru tanpa terhalang gedung-gedung, dimana kebahagiaan terasa ugahari hanya dengan melempar batu ke buah atau mengukir kulit pohon.

Saya pikir kita harus lebih sering bermain dengan pohon.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s