Alarm

Kepala saya berat dan membuat saya tak percaya lagi pada apa-apa. Menjadi anarko murtad itu lebih pelik dari apapun juga. Tapi, saat suara dalam kerongkongan ingin berontak, diam adalah kejahatan. Pada akhirnya, kita hanya perlu menghayati carpe diem sedalam mungkin. Bahwa yang ada cuma hari ini, tak ada kemarin dan hari esok.

Believe nothing, kata Siddharta, unless it agrees with your own reason and your own common sense.

I don’t even believe in believing, bunyi salah satu dialog dalam komik.

Semua ini membuat kepala saya berputar-putar, seperti menumpang roller-coaster dengan menggegam sebotol Heineken. Ini bukan hal yang tidak biasa bagi seorang yang terbiasa menabrakan diri dengan ide-ide, dengan segala kemungkinan dan pertimbangan, yang bukannya meluruskan malah membentuk putaran baru.

Hari-hari belakangan seperti mimpi yang chaotic, tidak bisa dipercaya. Taktik patah dan semua jadwal mendadak berantakan. Adalah fokus yang kabur yang membuat segala kekacauan ini meletus. Ibarat membangun istana pasir dengan telaten dan susah payah, tapi kau goyah dan mabuk, lantas menghancurkan semua.

Untungnya, tak seluruh istana rontok. Hanya beberapa menara yang raib, sedangkan bagian-bagian lain masih tegak. Satu-satunya yang perlu dilakukan sekarang adalah menenggak dua cangkir kopi, menyingsingkan lengan, mengenakan kacamata kuda, dan membangun lagi. Akhirnya, yang terpenting ialah pulang kepada kewarasan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s