Retorika, Apologia

Mencintaimu adalah sebuah ekstasi dan elegi secara bersamaan. Kau adalah rumah para puisi yang menetes dari jari jemari. Kau adalah arloji yang berdenyut di nadi.

Itulah kenapa kata-kata begitu sulit mencari jalan keluar. Saat langit muram dan arah angin mengabur, semua terasa sesat. Ada yang patah di ujung lidah. Maka, kalimat tertunda. Dan ketika ia tumpah, segalanya tak berarti lagi.

Dalam permainan ini, ‘seharusnya’ adalah sesal yang menusuk dan ‘seandainya’ ialah pistol yang meledakkan isi kepala. Seluruh retorika dan apologia ini sia-sia belaka. Ia hanya berartiĀ untuk melipur lara. Selebihnya omong kosong.

Hanya saja, ada satu yang mengganjal. Saat tanda-tanda pada semesta seakan membentuk aksara, mencipta makna. Tapi tanpa eksplanasi, sehingga memaksa untuk mereka-reka ‘ada apa gerangan?’

Pada detik ini, saat jam memutar jarumnya dan malam melipat diri, wajahmu ada di setiap sudut di dinding kamar. Membentuk mosaik yang warna-warni namun murung. Seperti ada senyum yang melekat di ujung air mata.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s