Menolak Lupa?

Di negeri ini, ingatan adalah benda yang rapuh. Kita terlalu mudah lupa dan abai akan hal-hal yang harusnya terus lekat di kepala. Kita begitu gampang terlena oleh rutinitas dan sampah di koran. Kita begitu yakin bahwa waktu akan memecahkan sebuah masalah, tanpa pernah berupaya menjaga ingatan tentang pentingnya sebuah kebenaran yang tegak.

Jadinya, menolak lupa adalah sebuah klise yang tragis. Padahal, ia lahir dari ide yang luhur tentang perlunya mengingat kejahatan. Para dalang yang bengis itu sudah terlanjur paham bahwa waktu adalah teman yang setia, karena ia membuat orang-orang lupa. Ingatan yang absen menjadi semacam alat untuk melanggengkan kuasa di dunia penuh huru-hara.

Segalanya selalu berulang. Masalah datang dan menagih pertanggungjawaban. Tapi para pemain kecil yang selalu dikorbankan, sedang aktor intelektual aman-aman saja. Selalu seperti itu. Kemudian waktu datang bertumpuk dan menutup persoalan. Seakan tidak ada yang pernah terjadi. Rakyat pasrah, kaum bangsat semringah.

Sudah terlalu banyak benang kusut yang dibiarkan tanpa ada upaya meluruskan kembali. Orang-orang sibuk dengan cara mengisi perut dan memegahkan diri dengan glamornya gaya hidup terkini. Semua itu menyilaukan, lantas membikin buta. Apa-apa selain yang berkaitan dengan diri sendiri adalah ruh asing yang tak penting. Kita lupa dan terus alpa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s