Menyoal Backpacking

“Westerners will often tell their Chinese acquaintances, with great pride, how little they paid for their watch, their clothes, or their car. This inevitably provokes disappointment. In Asia, the goal is to tell everyone how much you paid for these things.” (The Rebel Sell, p.269)

Saya sedang kangen bacaan yang yang agak berat. Biasanya jika hal ini terjadi, saya akan membuka kembali The Rebel Sell-nya Heath & Potter. Beberapa bab belum saya baca atau baru dibaca sebagian. Kali ini saya membuka bab Thank You India! dan tertegun di tengah bacaan ketika mendapati tiga kalimat yang saya kutip di atas.

Kutipan tersebut membuat saya merenung kembali ke masa-masa ketika menulis skripsi tentang fenomena backpacking di Indonesia. Sayang sekali, saya tak sempat membaca bab Thank You India! saat skripsi-an. Padahal, tiga kalimat itu bisa memberikan elaborasi lebih dalam memahami dan mengkritisi skena backpacking di Nusantara.

Sebelum kalimat pertama, Heath & Potter sempat menjelaskan kenapa orang Barat bersikap demikian. Adalah sisa-sisa pemikiran dari gerakan kounter-kultural 1960-an yang membuat semacam tabu bagi mereka untuk mengonsumsi barang dengan harga mahal. Gelagat anti-kemewahan itu yang masih terbawa hingga saat ini di masyarakat Barat.

Hal itu pula yang kemungkinan besar membuat backpacking begitu populer dan berkembang di sana. Identik dengan gaya perjalanan yang independen dan berbiaya murah, backpacking adalah potret lain dari semangat kounter-kultural di Amerika dan Eropa. Tujuannya cukup jelas, yakni menentang turisme arus utama yang terkesan elitis.

Menjadi menarik ketika backpacking terus bertambah populer dan kemudian merambah Asia. Pada titik ini ada tabrakan nilai yang tak terelakkan dan hasilnya adalah sebuah wujud yang berbeda dari backpacking. Seperti disebut di atas, backpacking mengandung semangat anti-mapan dan identik dengan murah, sedangkan orang Asia cenderung konsumtif.

Pemikiran ini memberi warna baru bagi saya dalam memahami wajah backpacking di Indonesia. “Pantas saja,” pikir saya dalam hati. Memang ada kekhasan dalam gejala backpacking di negeri ini yang berbeda dari konsep aslinya dari Barat. Tabrakan tadi yang rupanya membikin semacam khaos kecil yang menjadi dasar permasalahan di tulisan saya.

Saya menduga, ketika datang dengan kandungan budaya tanding ke Indonesia, backpacking justru ditangkap dan dimaknai dengan pola pikir yang konsumtif khas orang Asia. Ini melahirkan perpaduan yang unik, kalau tak mau dibilang aneh. Mungkin, inilah mengapa banyak yang terasa janggal pada (konsumsi budaya massa) backpacking di Indonesia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s