Menjadi Nothing

“I’m sick of not having the courage to be an absolute nobody.” -J.D.Salinger

Saya lupa baca dimana, tapi kira-kira seperti ini: banyak yang keliru dengan eksistensialisme, yang terpenting justru menjadi nothing. Kalimat ini seakan menabrak mereka yang tengah berlari, mencari, dan memberontak, mengupayakan kebebasan, demi menjadi manusia seutuhnya. Katanya, itu tak lebih penting dibanding menjadi bukan apa-apa.

Di tengah hiruk pikuk penuh euforia ini, di kerumunan massa yang terlalu ambisius untuk menjadi cool dan rebel, di barisan orang-orang yang menuju light in the end of tunnel, di masa dimana vox motivator vox dei, di jaman ketika menjadi muda dan pengusaha dan gak lulus kuliah itu keren: memilih menjadi nothing adalah kemungkinan yang sulit ditempuh.

Dari dalam gedung sekolah dan gereja kita diajari untuk menjadi sukses, kaya, dan mapan. Seiring waktu, oleh media sosialisasi lain, kita disuruh lulus dari universitas bagus, punya keluarga yang sakinah, membesarkan anak-anak soleh, membeli mobil (kalau bisa dua), liburan ke luar negeri, dan mengikuti perkembangan jaman beserta gadget-gadgetnya.

Terakhir, kita didorong untuk memberontak dan bebas.

Semua seakan membentuk khaos yang tak putus-putus, membikin murung, dan membuat kita bertanya-tanya sebenarnya jaman apa yang sedang kita hidupi ini. Semua itu melahirkan pusing di kepala tentang harus menjadi ini dan itu, baiknya punya abc sampai xyz, tapi juga harus terus merasa free as a bird dan menjadi Che Guevara kecil-kecilan. Gila.

Pula, kita diharuskan punya mimpi-mimpi raksasa, mewujudkan dengan pantang menyerah seperti Oprah, tapi tetap hip laiknya Steve Jobs, dan tak perlu khawatir kalau punya masa kecil payah kaya Einstein. Pokoknya kita harus bermimpi. Tidak ada apologi untuk mereka yang kecut dan tak punya ambisi, apalagi mereka yang hanya ingin jadi orang biasa.

Hingga di satu titik, kita semua lelah berlari dan berkejaran menuju angkasa. Kaki-kaki kita mulai bengkak dan bisulan, mata kita sembab. Kita lantas sadar menjadi debu dan tanah ialah kemungkinan yang selalu fifty-fifty dan semua ini sebenarnya cuma kesia-siaan. Saat itu kita tahu bahwa menjadi biasa itu luar biasa dan menjadi nothing adalah segalanya.

Advertisements

One thought on “Menjadi Nothing

  1. Gue baru baca ini, beberapa minggu setelah gue operasi. Setelah kita ngobrol sepanjang malem soal kematian. Dan seperti yang gue janjikan, gue hidup lebih bersahaja sekarang.
    Menjadi nothing atau something itu personal banget ya…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s