In A Strange Room

Saya mendapati In A Strange Room di salah satu mal di Senayan satu hari sebelum Juventus bertanding di Gelora Bung Karno. Ceritanya saya sedang menunggu teman karena sore harinya ada sesi latihan terbuka di GBK. Menemukan buku ini saya jadi semakin percaya bahwa bukulah yang menemukan kita, bukan sebaliknya.

In A Strange Room ditulis oleh Damon Galgut, seorang novelis Afrika Selatan. Dalam versi Bahasa Indonesia, ada frasa ‘perjalanan tiga benua’ di bawah judulnya. Itulah yang membuat saya membelinya, disamping karena bocoran di halaman belakang. Saya baru membacanya beberapa bulan kemudian untuk melepaskan diri dari bacaan-bacaan Bahasa Inggris.

Buku ini dibagi dalam tiga bagian besar: Si Pengikut, Si Pencinta, dan Si Pelindung. Tiap bagian adalah tiga kisah perjalanan yang berbeda, sehingga ada tiga cerita perjalanan di buku ini. Tapi, buku ini bukan panduan wisata murahan. Ini adalah cerita tentang perjalanan sebagai sebuah ritus yang kelam, bukan hore-hore industri pariwisata.

Di bagian pertama diceritakan Damon bertemu seorang bule Jerman di Yunani. Mereka lantas berteman dan bertahun-tahun setelahnya melakukan perjalanan bersama ke Lesotho, sebuah negara yang ada di tengah-tengah Afrika Selatan. Untuk siapa pun yang pernah melakukan perjalanan berdua, ini kisah yang bisa membuat anda tersenyum dan mengangguk-angguk.

Perjalanan keduanya adalah tipikal kelana yang dilakukan dua orang yang biasa berpergian seorang diri, tapi disatukan. Di dalamnya ada egoisme dan keinginan untuk bebas yang akrab bagi saya. Di akhir bagian pertama, Damon berpisah dengan kawan perjalanannya karena pendaman perasaan yang menggunung dan tak bisa ditahan lagi. Ia lantas kembali ke negaranya.

Bagian kedua semakin mengasyikkan karena Damon bertualang ke Zambia, Tanzania, Malawi. Saya menyukai bagian ini karena memberi imajinasi tentang Afrika di tengah gelontoran cerita-cerita perjalanan di Eropa, Amerika Selatan, Amerika Utara, atau pun Asia. Bagian ini menawarkan sesuatu yang berbeda bagi siapa saja yang bercita-cita keliling dunia.

Kisah di bagian kedua sedikit lebih kompleks dari bagian pertama karena terdapat lebih banyak tokoh. Tapi, inti cerita berpusat pada hubungan misterius Damon dan Jerome, bule Swiss yang ditemuinya di perjalanan. Beberapa bulan setelahnya, Damon menemui Jerome di Swiss, lalu pulang satu hari sebelum Jerome meninggal dunia.

Yang menarik dari bagian ini juga adalah tentang fleksibilitas dalam perjalanan. Sebenarnya, Damon berniat hanya mengunjungi Zambia. Lalu, pertemuannya dengan orang-orang asing dan kata hatinya mendorongnya berkelana lebih jauh dan lebih lama. Ia mendapati perjalanan sebagai pelarian diri yang konstan, sebuah pencarian yang tanpa pusat.

Bagian ketiga adalah yang paling sentimentil. Damon pergi ke India bersama Anna, pacar dari sahabatnya yang lesbian. Anna menderita gangguan mental. Bayangkan, anda berpergian dengan seorang yang secara medis dinyatakan gila. Puncaknya, tentu saja drama ketika Anna melakukan usaha bunuh diri yang akhirnya gagal.

Yang paling seru di bagian ketiga ini bukanlah soal perjalanan, meski itu juga menarik, tapi tentang kematian dan kebencian pada hidup. Anna dikisahkan dengan simpatik sebagai sebuah representasi manusia yang tak suka hidup, namun dicintai oleh siapa saja dan punya segala bentuk keindahan untuk menikmati hidup, yang ditolaknya.

Novel ini memang terasa begitu gelap, meskipun disisipi detil-detil yang lucu, unik, dan warna-warni. Siapa pun yang menghargai perjalanan lebih dari sekadar konsumsi gaya hidup banal rasanya akan menyukai buku ini. Salah satu testimoni di bagian depan rasanya cukup mewakili apa yang saya rasakan: peringatan tegas bagi siapa pun yang pernah berkelana untuk melarikan diri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s