Anak-anak Nusa Tenggara

Tiba-tiba saya teringat anak-anak Flores yang bermain bola di depan losmen murah di Labuan Bajo. Di bawah terik matari, mereka bermandian sinar dan menendang bola plastik, tanpa alas kaki. Debu-debu berterbangan, tapi siapa anak kecil yang tak suka debu? Dengan senyum yang mengembang, dengan gawang dari sandal, kaki-kaki mereka bergerak menari, menggocek bola, dan melepaskan tendangan. Itu adalah keindahan.

Setahun setelahnya, ketika saya mendatangi Sumba, saya kembali mendapati momen dimana anak-anak asyik menggiring bola. Entah kenapa, ada yang puitis dengan lapangan hijau dengan latar langit membentang. Saat itu menjelang matahari terbenam, langit berwarna ungu, di tengah hamparan padang sabana dan pemandangan kerbau-kerbau yang sedang makan sore. Disitu saya mencuri kenangan tentang sebuah pulau di selatan.

Saat itu saya tengah menuju Waingapu dari Waikabubak. DI kota yang disebut terakhir, saya sempat mengunjungi salah satu desa adat. Saya hanya melihat-lihat dan bercengkrama sedikit dengan anak-anak dan ibu penjaja tenun. (Saat ini tenun yang saya beli disana sedang saya tengok). Saat berjalan-jalan, di tanah petak kecil, di tengah rumah-rumah adat Sumba, anak-anak berlarian dan meneriakkan ‘gol’.

Di Waikabubak saya juga mendatangi salah satu lapangan di depan gereja. Saat itu hujan baru reda, langit masih abu-abu, dan jalan masih becek. Lapangan itu kosong. Tak ada aktivitas. Hanya beberapa orang lewat untuk memotong jalur. Saya duduk di tangga yang jadi semacam bangku saat ada pertandingan. Saya hanya diam dan berpikir, berpikir, berpikir, lalu menggerutu. Kenapa dulu ingin cepat dewasa?

Saat di Ende, saya melihat anak-anak bermain bola di depan Taman Bung Karno, dekat dengan dermaga. Biasa saya melihat-lihat sambil minum es kelapa dari seberang. Tempat itu dilengkapi dua gawang. Bagaimana pun klisenya, gawang adalah bagian penting bagi anak-anak yang bermain bola. Tak peduli dari tiang atau sandal, sepak bola tanpa gawang dan gol memang hanyalah basa-basi. Kami ingin kegembiraan, tapi bukan basa-basi.

Di kepala saya saat ini, banyak momen lain tentang anak-anak Nusa Tenggara yang sedang mengejar bola. Saling loncat dan tabrak, hingga segalanya menjadi samar, lalu perlahan membentuk lukisan: tanah lapang yang amat luas, dengan atau tanpa rumput, berlatar langit biru yang bersih dengan awan-awan putih menggantung, kaki-kaki kecil berwarna hitam sedang membawa bola. Saat-saat seperti itu, waktu seakan mati. Tapi, ternyata tidak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s