Einstein

Pagi ini saya mengikuti tes IELTS di salah satu sekolah di Pondok Indah. Suasana sebelum ujian membuat saya tersenyum. Saya seperti kembali ke masa sekolah. Orang-orang bersliweran. Ada yang mengobrol dan bercanda, membunuh waktu. Ada yang sibuk dengan buku bertipe IETLS for dummies. Ada yang hanya duduk membaca majalah atau sibuk dengan smartphone. Apa yang lebih lucu dari kesadaran bahwa anda merindukan sebuah ujian?

Sambil menunggu, saya hanya membolak-balik majalah berbahasa Inggris. Sekalian pemanasan, pikir saya. Lalu tiba-tiba suasana berubah, orang-orang menuju suatu arahan. Lokasi kelas telah ditentukan, berikut nama-nama peserta. Antrian muncul seketika, disusul teriakan semacam ‘gue sekelas sama lo’. Tapi, kami belum disuruh masuk ke dalam ruangan dan dipersilakan menunggu beberapa menit lagi. Saya kembali membunuh waktu dengan majalah.

Sebenarnya saya hanya melihat-lihat gambar dan caption-nya saja. Hanya ada satu tulisan yang saya baca di majalah itu: tentang Jokowi. Isinya hanyalah sebuah klise buatan kelas menengah yang dirundung optimisme gila-gilaan pasca kemenangan Jokowi-JK, sembari mengutuk Tifatul Sembiring yang masyhur itu. Namun, apa ide tulisan itu tak penting buat saya pagi itu. Saya hanya memperhatikan sang penulis menata gramatikanya. Patetik, bukan?

Waktu ujian tak kunjung tiba. Saya sudah bosan dan kemudian beranjak keluar, mengambil permen dalam saku dan mengunyah. Tiba-tiba perubahan terjadi lagi. Orang-orang membentuk semacam antrian, saya bergegas. Kami, mungkin lebih dari 50 orang, dipisah menurut tempat pendaftaran. Antrian yang cukup panjang dan melelahkan, diselingi aturan-aturan tes yang dibacakan. Semuanya hanyalah basa-basi protokol.

Sembari mengantri, saya melihat-lihat sekitar. Ada dua tipe manusia disitu yang mengesankan saya. Pertama, orang-orang yang lebih tua dari saya, yang salah satunya bercanda dengan mengatakan ‘wah saingan sama yang muda-muda nih’. Kedua, tentu saja, adalah perempuan-perempuan dengan segala variasinya: rok mini, jeans, make-up tebal, sweater berwarna marun, tas serut, sepatu ber-hak. Tak ada yang benar-benar memikat.

Antrian terus bergerak maju. Sebentar lagi giliran saya meletakkan jari telunjuk di mesin pindai, tapi masih ada beberapa orang di depan. Saya melirik-lirik lagi ke sekitar dan mata saya tertuju pada sebuah sudut. Disana terbaca sebuah kutipan dari Einstein. Di sekolah maupun kampus-kampus, berbagai kutipan dari tokoh terkenal memang jamak ditemukan. Namun, ada yang terasa pas dari kata-kata Einstein di pagi itu.

“Try not to become a man of success, but rather try to become a man of value,” bunyinya.

Di tengah kerumunan orang-orang yang sedang mengejar sesuatu ini, saya rasanya ingin keluar dari antrian dan pulang setelah membaca kata-kata itu. Tentu saya tidak melakukannya. Saya justru makin maju ke baris depan, diperiksa oleh petugas, dan naik tangga. Ada yang ringan pada langkah saya setelah kata-kata Einstein mencerna dirinya sendiri. Saya masuk ke dalam kelas, lalu tiba-tiba segalanya menjadi terasa mudah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s