17

23 tahun sudah kesia-siaan ini bergulir. Setelah ini entah apa lagi omong kosong yang tersisa. Mungkin ini adalah waktu yang tepat untuk menengok ke belakang dan melongok ke depan. Sepanjang 23 tahun telah berlalu, lalu berapa tahun lagi?

Andai saya ditanya berapa usia paling ideal untuk mati, maka saya akan jawab 40. Tidak ada penjelasan untuk itu. Hanya angka itu terlanjur menjadi semacam visi di kepala. Jika saya disuruh menggambarkan 10 tahun lagi akan ada dimana, saya sanggup menjawab. Saya mungkin sedang di suatu sudut Valparaiso dan menggali kehidupan Pablo Neruda. Bisa juga saya ada di tengah-tengah perkebungan kopi di dataran tinggi Flores. Misal.

Tapi jika saya ditanya akan jadi apa 20 tahun lagi, saya tak mampu menjawab. 20 tahun lagi berarti usia 43 tahun, dan karena visi saya hanya sampai 40, maka saya tak tahu akan jadi apa 20 tahun dari sekarang. Tapi, bukan berarti saya akan pasti mati pada usia ke-40. Saya mungkin juga takkan berani bunuh diri. Itu hanya angka di kepala yang, saya ulangi, terlanjur menjadi visi. Mungkin saja seperti kata-kata terkenal itu, life begins at 40.

Setidaknya saya tahu ada 17 tahun yang menunggu di depan sana. Ketika dipikir lagi, itu waktu yang singkat. Hidup saya tinggal sebentar lagi. Mengingat-ingat 23 tahun yang sudah lalu, mungkin saja 17 tahun mendatang akan sama dan berbeda secara bersamaan. Di kepala saya saat ini ada sekelibat bayangan tentang 17 tahun di depan itu, semacam proyeksi mimpi-mimpi yang warna-warni. Hanya saja segalanya blur.

Setelah ini, lalu apa?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s