Insomnia, Hesse, Bukowski

Setiap kali insomnia datang, saya hanya pergi ke depan laptop dan menulis kata-kata. Apa saja. Seperti ini. Hal ini membuat saya terjaga sekaligus mengantuk perlahan-lahan.

Saya jadi teringat Herman Hesse. Karyanya yang memenangkan nobel, Journey to the East, tertulis dengan nuansa yang begitu kelam. Pada suatu bagian dia seolah memberi sinyal bahwa dia menulis untuk menghindar dari usaha bunuh diri. Menulis menyelamatkan dia. Hal itu senada dengan yang diucapkan oleh Charles Bukowski.

Pada suatu masa, penulis berdarah Jerman itu ditanyai soal kenapa dia menjadi penulis. Dengan enteng penyair kaum papa itu menjawab, “Simpel. Anda memilih menumpahkan di atas kertas atau melompat dari jembatan.” Saya teramat yakin bahwa ada banyak penulis lain yang percaya bahwa menulis adalah upaya menyelamatkan diri.

Apakah dari kematian atau insomnia, yang jelas menulis ialah penyelamat. Bagi yang percaya hal itu, kata-kata yang muncul dari kepala dan tertuang di kertas/layar adalah keajaiban tersendiri yang susah dikisahkan pada orang lain. Harus mengalami sendiri untuk merasakan dan menghargai keajaiban yang ugahari itu.

Setelah ini, saya akan tidur nyenyak. Mungkin bermimpi sedang berjalan-jalan dengan Hesse dan Bukowski di suatu kota di Jerman. Berbicara tentang puisi dan sastra, tentang kematian dan perang, tentang perempuan dan bir, dan tentang insomnia yang mengganggu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s