Etranger

* Etranger adalah Bahasa Prancis. Artinya orang asing. Saya sedang teringat Albert Camus, jadi saya pakai saja salah satu judul bukunya.

Di kepala saya sedang berputar muka-muka orang asing yang saya temui di perjalanan-perjalanan terdahulu. Biasanya, ini adalah fase pertama dari kerinduan akan perjalanan. Tapi bisa saja saya hanya ingin mengingat-ingat. Mengingat orang-orang asing itu adalah upaya mengingat tuhan. Sejak kecil saya percaya konsep malaikat. Dan malaikat bisa saja orang-orang yang kau temui di tengah-tengah perjalanan.

Ingatan pertama saya terbang ke suatu pagi yang cerah di Mataram. Saya turun dari bis malam yang membawa saya dari Denpasar. Saya kebingungan di tengah Terminal Mandalika. Berpikir bagaimana cara menuju Pelabuhan Bangsal. Lalu saya bertemu seorang ibu penjual warung di luar terminal. Dia mengantar saya pada seorang tukang ojek yang lantas membawa saya melintasi pagi di jalanan Lombok. Ibu itu takkan terlupa.

Kemudian, angan saya terbang. Di suatu siang di Waikabubak, saya baru pulang dari plesir ke beberapa pantai di Sumba Barat. Saya tiba di penginapan dan sang pemilik mengenalkan pada anaknya yang tinggal di Waingapu. Namanya Bob, tanpa Marley. Sore itu saya memang hendak menuju timur dengan travel. Tapi saya berakhir dengan menumpang espass bersama Bob dan ayahnya. Momen dimana kebetulan-kebetulan terasa tidak seperti kebetulan, itulah yang membuat kita mencintai perjalanan, bukan?

Saat di Flores, saya melihat sepasang bule berambut gimbal. Saya tak pernah berbicara dengan keduanya. Tapi kedua orang itu selalu ada di ingatan. Pertama saya melihat mereka di kapal dari Sumbawa, lalu di jalan Labuan Bajo, lalu di Pulau Rinca, lalu di Ruteng, dan terakhir dalam perjalanan dari Ruteng menuju Bajawa. Saya naik kijang, sementara mereka berdua mengendarai sepada motor. Si bule perempuan yang di depan. Cool as fuck.

Sekali waktu, saya berada di tengah Kalimantan. Saya menuju air terjun Semolon di tengah-tengah perhutanan Malinau. Entahlah di titik mana dalam peta atau apa nama sebutan administratifnya. Di dekat air terjun itu disediakan pondok. Dan di sana saya bertemu dua kakak beradik bersama satu orang keponakan mereka. Dua kakak beradik itu mengingatkan pada apache dari segi postur badan, rambut, raut muka, kulit, dan senapan yang mereka punya. Di tengah keterbatasan, mereka membagi kami makanan mereka: nasi dan ikan sungai yang kecil. Enak.

Di Sumatra, saat menuju Danau Toba dari Bukittinggi, saya dan seorang kawan menumpang travel yang dikendarai bapak dua anak bernama Bang Abip. Saya duduk di depan. Sepanjang 15 jam perjalanan kami berbagi banyak cerita. Kami melewati desa-desa perbatasan provinsi, sungai-sungai, jembatan titik nol khatulistiwa. Bersama dia, saya juga menikmati sunset kedua terindah yang pernah saya lihat dalam hidup ini. Jingga di balik Bukit Barisan.

Soal Sumatra, saya jadi teringat suami istri di Bengkulu yang saban pagi kami hampiri. Mereka berdua memiliki warung nasi kuning berharga murah. Sangat nikmat. Sebelum menuju Padang, kami juga memesan mie goreng untuk bekal. Karena tak punya sendok plastik, kami dengan tanpa malu meminta sendok besi si ibu dan ia memberikannya. Kalau tidak salah, sendok itu masih ada di tumpukan sendok di meja makan di rumah saya.

Pikiran saya terbang lagi ke Sumba, tepatnya Waingapu. Di kota itu, saya menginap di hotel murah milik pasangan peranakan Cina-Sumba. Suatu malam sang suami meminta bantuan saya soal handphone Sony Ericsson jadul miliknya. Kebetulan kala itu saya memakai merk yang sama. Saya tak terlalu banyak membantu, hanya menelepon customer service. Sebagai imbalan, dia menghadiahi teh kotak. Esoknya, handphone-nya kembali normal. Saya orang pertama yang dia datangi dan kabari. Hahahaha.

Waktu di Ambon, saya bertiga bersama dua orang teman. Satu orang yang kami tak bisa lupakan adalah seorang pelayan di Kedai Kopi Joas. Kami sepakat, perempuan yang tampaknya berumur 20-an akhir atau 30-an awal itu adalah perempuan tercantik di Ambon. Manisnya, amboi! Dari dua minggu di Ambon, kami cukup sering bolak-balik kedai kopi itu. Meminum kopi dan menjajal poffertjes-nya yang enak. Serta, tak lupa mengagumi sang nona.

Ah, seorang nenek asal Maros yang saya temui di Bandara Eltari Kupang. Itu adalah kali pertama saya naik pesawat seorang diri. Saya hendak menuju Makassar. Tante dan om ceritanya menitipkan saya pada nenek itu, takut saya kenapa-kenapa. Dia akan pulang kampung sehabis mengunjungi sang anak di Soe. Saat saya jajan soft drink, nenek itu mengucapkan kalimat yang entah kenapa selalu saya ingat. “Anak yang suka jajan biasanya pintar cari duit nanti kalau sudah besar,” katanya sambil tersenyum.

Waktu berkunjung ke Bali untuk kali pertama saya menumpang di kosan teman di daerah Nusa Dua atas. Nyaris setiap pagi saya selalu sarapan di warung makan yang menjual sate babi. Porsinya sedikit, pas untuk sarapan. Saking seringnya, setelah beberapa hari saya tak perlu mengucapkan menu yang saya inginkan. Setiap saya datang dan si ibu melihat saya masuk, ia langsung menyuruh anaknya membawa makanan yang saya inginkan. Ajaib.

Belum ada kisah tentang perempuan sebaya. Di suatu siang saya berada di perpustakaan UGM. Niat saya adalah mencari tinjauan pustaka untuk skripsi. Saya mengambil beberapa skipsi dan membacanya di bangku dan meja yang disediakan. Tak lama setelah duduk, seorang mahasiswi berkulit putih, berkaos ungu, dan berambut sebahu, duduk di depan saya. Salah satu perempuan tercantik yang pernah saya lihat. Menyitir Laksmi Pamuntjak dalam Amba, “wajahnya mengandung kesedihan sebuah kota”. Buat saya, itu seksi.

Dan ingatan saya terbang lagi. Menuju Sumbawa. Dalam perjalanan dari Sumbawa Besar ke Bima, saya dan  dua orang kawan menumpang bus. Suasana sesak dan himpit-himpitan. Cuaca panas lalu berganti hujan. Tapi itu tak penting. Saya hanya terbayang wajah sang kenek yang sepanjang perjalanan hampir sembilan jam itu menjadi bahan banyolan. Segala hal dari si kenek mengundang tawa, membikin senyum di tengah penat akan perjalanan.

Dari Kefamenanu menuju Kupang, saya juga menumpang bus. Lalu di Nikiniki, bus itu mogok dan berhenti hampir sejam. Tak tahan, para penumpang berpindah bus yang kebetulan lewat, termasuk saya. Seorang nenek membawa hasil sawah dan menggotong masuk ke dalam bus kedua itu. Sesampainya di Kupang, terjadi cekcok karena ternyata ada juga yang membawa hasil sawah. Bawaan mereka tidak ditandai. Saya lupa secara persis pangkal masalahnya. Yang jelas saya masih ingat raut kesedihan sang nenek karena hasil sawahnya raib dibawa orang. Dia kalah argumen. Sedih sekali.

Sebenarnya masih banyak lagi orang-orang asing di perjalanan yang menarik untuk diceritakan. Tapi, Meksiko-Kroasia sebentar lagi dimulai. Sekian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s