Kompromi

“Ada yang mesti gue kejar di masa depan yang sifatnya permanen dan megah. Keindahan di Bali hanya ilusi di mata.”

Seorang kawan yang sudah lebih dari setengah tahun tinggal di Bali mengirim pesan singkat pada suatu pagi yang aneh. Dia menanyakan soal pekerjaan dan ingin kembali ke Jakarta (baca: Depok). Padahal baru  satu setengah bulan lalu kami bercengkrama di sudut-sudut Denpasar dan sepakat bahwa Bali adalah surga. Bahkan saya berencana untuk pindah ke sana jika Tuhan berkehendak. Namun hingga kini Tuhan masih abai.

Bali adalah imaji tentang hidup yang santai, dengan langkah kaki yang tak cepat seperti manusia-manusia Sudirman, tentang pantai dan ombak, langit yang cerah dan tak penuh polusi, tentang manusia yang berbudaya dan kehidupan yang tak seperti mesin. Singkatnya, Bali adalah kontradiksi dari Jakarta. Meski masih bisa diperdebatkan, Bali adalah eskapisme bagi kaum urban sialan Jakarta yang penat dengan hidup yang sia-sia.

Saat itu kami berbicara layaknya anak muda idealis yang tak peduli pada apa-apa. Kami seperti penyanjung eksistensialisme dan kebebasan yang murni. Persetan dengan tuntutan jaman, masyarakat, keluarga, masa depan. Hidup adalah urusan kami masing-masing. Semua bisikan tentang menata hidup demi masa depan seperti kami ludahi. Kami seperti orang-orang dengan tato ‘Carpe Diem’ tertulis di tubuh.

Tapi konon hidup adalah soal menyerah pada kenyataan. Mau tak mau kita dipaksa berkompromi dengan realita. Hidup toh nyatanya bukan tentang hari ini doang. Ada sesuatu yang misterius di depan sana, yang disebut masa depan, yang meski kadang menyilaukan, tapi menyihir kita terus menatapnya dan berjalan ke arahnya. Maka yang kita kerjakan tiap hari sebenarnya adalah bentuk penyembahan terhadap sesuatu yang misterius itu.

Kita juga tersadar bahwa kita takkan selamanya muda, liar, dan bebas. Kita takkan terus membujang, berkelana ke tempat-tempat asing, atau mabuk-mabukkan hingga pagi buta. Dalam sebuah tulisan menjelang pernikahannya, seorang kenalan mengakui bahwa “Masa-masa itu selalu menyenangkan. Sangat menyenangkan. Tapi kadang, di satu titik tertentu, bisa sangat melelahkan.” Yang kita butuhkan hanyalah menunggu ‘titik’ itu tiba.

Dan ketika itu terjadi, seluruh hidup seperti jungkir balik. Mungkin saja kita seperti orang yang masuk salon dan keluar dengan tampilan yang sama sekali berbeda. Kita mulai percaya pada hal-hal yang tadinya kita bantah dan mulai rela menjilati ludah sendiri. Kita menjadi patuh pada konsep tentang masa depan, hidup yang tertata, dan aneka ciri kehidupan ‘normal’ lainnya. Kita seperti sedang dicubit untuk memastikan bahwa semua ini nyata, loh.

Setelah ini, kita serasa punya mata yang berbeda dalam memandang segalanya.

Advertisements

One thought on “Kompromi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s