Untitled

I want to live deep and suck out all the marrow of life (Thoreau)

Apa yang membuat hidup patetik justru keinginan untuk hidup. Menggelikan

Oleh karena itu, obat-obat baru dicari, masa depan ditata, dan kebohongan diumbar. Semuanya demi mewujudkan cita-cita Chairil: Aku ingin hidup 100 tahun lagi! Padahal kita tahu, Chairil mengucapkan itu dalam puisi yang sama dimana ia mengakui bahwa dia/kita adalah binatang jalang. Mungkin 100 tahun adalah semacam satire.

Kita terlanjur dipenjara budaya bahwa hidup harus dipelihara agar tahan lama, agar tak lekas mati. Hidup hanya untuk menunda mati? Itu bagian patetik lainnya. Sejak kecil pada tiap hari jadi kita, orang-orang megucapkan doa yang terlanjur menjadi klise: semoga panjang umur. Kita lupa bahwa sebagian orang tak ingin umur yang panjang. Thoreau salah satunya.

Ada orang-orang yang lebih ingin hidup ‘dalam’ daripada ‘panjang’. Ada sebuah peribahasa kuno dari Italia: jika kamu tak bisa hidup lebih lama, hidup lebih dalam. Rasanya itu poin penting di tengah kebudayaan yang hancur lebur oleh ambisi berumur panjang. Kita tak akan kembali ke jaman nabi-nabi dimana, konon, mereka hidup hingga ratusan tahun.

Hidup yang ‘dalam’ mungkin cuma soal menjaga esensi dari hidup dan kemanusiaan kita. Bahwa hidup bukan hanya gelontoran waktu yang bergulir, rapat dan menusuk. Dan kita manusia bukan hanya daging yang digerakkan weker dan kalender. Menyedihkan jika di ujung nyawa kelak, kita tersadar bahwa kita tak sempat mengenali siapa kita dan apa itu hidup.

Pengenalan tentang esensi itu memang dipandang remeh. Orang lebih peduli pada pengetahuan soal negeri-negeri yang jauh, teori bombastis, dan kebudayaan popular terkini. Esensi adalah urusan nomor kesekian bahkan tak masuk hitungan. Itu hanya urusan pertapa-pertapa jaman dulu. Jaman sekarang adalah lain soal.

Maka, sebenarnya kita tengah berjalan dalam kabut. Menuju ketiadaan dalam ke-ada-an.

Advertisements
Posted in ide

2 thoughts on “Untitled

  1. Ada satu orang lagi yang tak ingin umur panjang namun ia berkeinginan untuk hidup lebih dalam, So Hok Gie Beliau menuliskan kata-kata ini dibuku hariannya “Seorang filsuf Yunani pernah menulis … nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.”

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s