Sumba

Perkenalan saya dengan Sumba dimulai oleh sesuatu yang purba: bangku sekolah. Ingatan pertama saya tentang Sumba adalah tempat yang dipenuhi savana, luas terbentang. Lalu ada pelajaran peta buta. Dan setelah itu Sumba terlupakan. Ia hanya bagian kecil pelajaran IPS yang tersisihkan waktu.

Tapi sebuah perkenalan tak berarti tanpa pertemuan-pertemuan lanjutan. Tahun-tahun berlalu, saya tak lagi murid sekolah dasar. Saya sudah duduk di bangku universitas. Pada suatu siang yang terik di kelas antropologi, saya kembali mendengar Sumba. Mengingat lagi posisinya di peta dan membayangkan lautan savana itu.

Setelahnya hanyalah ambisi dan mimpi. Sejak itu Sumba mendadak menempati daftar teratas tempat yang ingin saya kunjungi. Dan Pasola adalah alasan utama. Perang di atas kuda dimana joki-joki melempar tombak. Juga dibumbui kisah kanonik soal tenun Sumba yang berharga mahal dan tradisi kematian orang Sumba. Sumba hanya menanti waktu.

Namun, ini bukan kisah yang lempang. Saya pernah dekat sekali dengan Sumba, Februari 2013 lalu. Saya mencapai Flores bersama seorang kawan. Labuan Bajo, Ruteng, Bajawa, dan Ende. Sempat pula melewati Aimere yang konon ada pelabuhan tempat bersandar kapal-kapal yang akan menuju Sumba.

Kebetulan waktu itu bertepatan dengan periode penyelenggaraan Pasola. Namun ingin tinggal ingin. Saya harus menunda harapan. Sumba belum terinjak kala itu. Namun, bukan berarti ia terlupakan. Dia tetap mengisi kepala saya. Lalu, setahun berselang, saya benar-benar melakukannya dan melunasi mimpi.

Apa yang lebih melegakan dari harapan yang jadi nyata? Saya rasakan itu kala melihat kuda-kuda berlarian dan tombak-tombak berterbangan di suatu siang yang panas di Waiha. Saat itu waktu seakan berhenti dan Tuhan sedang memeluk umatnya yang bermimpi. Dalam siluet lapangan hijau dan langit biru, keabadian menabrak saya.

Pagi ini saya mengingat lagi masa-masa itu: debu berserakan di Waitabula, bibir-bibir merah karena sirih, jalanan sepi, padang savana bak permadani, lautan biru dan pasir putih Marosi, sawah dan hutan di Waikabubak, lagu khas Sumba di kendaraan umum, rumah adat, senja berlangit ungu saat menuju Waingapu, dan Yesus bertenun Sumba di depan katedral.

Saya teringat saat berada di pesawat di atas pulau Sumba, saya melihat pulau yang tak ada apa-apa, hanya padang rumput yang tampak gersang dan jalanan yang lengang. Saat itu saya terpikir, ngapain gue kesini? Pada akhirnya, justru yang tidak ada apa-apa itulah yang menciptakan kerinduan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s