Bima

Malam ini saya seperti ingin sekali mendengar lagi Efek Rumah Kaca. Telinga mendengungkan Sebelah Mata, mengingat Adrian, sang bassist, yang konon menderita diabetes, lantas menulis lirik yang indah dan lirih. Saya selalu percaya apa yang datang dari hati akan masuk ke hati. Oleh karenanya, saya percaya Adrian menulis dengan seluruh hatinya.  Tapi sudah cukup soal Sebelah Mata.

Maka saya memutar lagu-lagu mereka lewat laptop, memasang headset, dan mengisi telinga dengan nada dan syair yang merdu, kadang menghentak, kadang mengiris. Tapi bagi saya pribadi, soal ERK adalah soal romantisme perjalanan. Saya jadi mengingat jalanan-jalanan yang saya lalui dalam perjalanan dari Sumbawa Besar menuju Bima, pagi hingga sore yang disertai gerimis.

Saya dan dua orang kawan perjalanan menumpang bis ekonomi yang terjajar di terminal Sumbawa Besar sejak pagi. Kalau tidak salah jam 9 kami tiba di sana, menunggu beberapa jam sebelum akhirnya bis penuh dan sang supir melajukan kuda besinya. Bis itu terisi sesak, menghimpit, diisi oleh orang-orang lokal. Dalam sebuah perjalanan, apa yang lebih baik dari menyesap lokalitas?

Hari makin siang dan cuaca makin panas. Di dalam bis itu kegerahan melanda, saya tidur dengan berbagai posisi. Entah berapa kali tidur bangun, entah berapa kali bangku tambahan sebelah saya diisi orang. Mulai dari ibu muda yang tampak necis dengan seragam pegawai negeri hingga seorang nenek yang tampak kesal ketika saya tertidur dan kepala saya nyaris menimpa badannya.

Kemudian sekitar jam 4 atau 5 bis berhenti. Para penumpang bisa makan dan meluruskan kaki sejenak. Perhentian ini sangat membahagiakan bagi saya yang dilanda kesemutan akibat… ya namanya juga bis ekonomi, sempit.  Kalau tidak salah kami berhenti di Dompu atau Banggo. Saya lupa. Saya memesan bakso kaki sapi yang kecapnya terlalu ekstra dan teh manis yang aneh.

Setelah menumpang kencing dan membayar santapan, saya kembali ke dalam bis, bersiap melanjutkan kelana dengan kesemutan hingga menuju Bima. Lalu tiba-tiba saja di tengah jalan, saat senja hampir tiba, hujan berderai turun. Tak lebat, hanya rintik-rintik yang tampak di balik kaca depan bis. Saat itu entah mengapa saya langsung memasang headset di telinga.

Lalu saya memilih ERK, memasang Desember, Laki-Laki Pemalu, dan lagu-lagu sendu lain dalam keriuhan dan himpitan ala bis ekonomi. Saat itu saya ingat saya menjadi melankolis, “menanti pelangi seperti hujan di bulan (bukan) Desember”. Isi pikiran saya kala itu macam-macam, mulai dari perempuan, misteri sisa perjalanan hingga Flores, dan skripsi yang tertunda sementara.

Melihat rintik hujan di kaca depan dengan pemandangan gunung-gemunung Sumbawa yang megah, dengan jalan-jalan yang meliak-liuk di depan, dan dengan telinga berisi getaran suara syahdu, adalah sebuah kesenangan yang elegik. Sesekali saya bengong menatap rintik, sesekali saya menutup mata mencoba tidur. Lalu hujan pelan-pelan mereda kala kami tiba di terminal kecil entah dimana.

Saat langit menggelap, bis sampai juga di terminal kota Bima. Tadinya kami hendak menuju Sape, tapi tak ada bis malam yang menuju kota itu. Maka kami menunggu pagi dan menginap di bis di dalam terminal yang bau kencing dan banyak nyamuk itu. Setelah tidur seadanya, dan bangun yang dipaksakan dengan mendengar celoteh bule Finlandia, kami menuju Sape saat matari masih lelap.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s