Tanpa Judul

Aku teringat pada suatu masa dimana kata-kata membungkam dirinya sendiri. Dan bunyi jadi sunyi. Tak ada lagu dan puisi, tak ada omong kosong. Semua yang mengalun hanya keabadian dan waktu yang telanjang. Segala menjadi api dan air dan angin. Langit abu-abu dan bintang mengerling. Lalu suara patah, jatuh berkeping-keping menjadi ingatan. Pada akhirnya adalah anestesi.

Apa yang tersisa dari kenangan mungkin semacam buku kuno di perpustakaan tua yang reot. Ia terselip di balik debu, di laci-laci yang jauh, di sudut yang gelap dan lindap. Tapi, bukankah disitu, di buku itu, tersimpan kekayaan tentang aiueo, tentang kisah-kisah sederhana yang bermakna, dan tentang kebijaksanaan yang hilang dari peradaban yang bergerak ini?

Lalu buku itu kau bawa dan menjadi kawanmu melepas lara tentang malam yang mendung dan hujan yang terus turun di bulan Maret. Menjadi semacam dongeng tua yang tak sok tahu tentang bagaimana hidup seharusnya, bagaimana melukai waktu tanpa membuatnya menjerit, dan bagaimana melukis bulan purnama di dinding yang benderang. Buku itu baiknya kau bawa ke dalam peti mati.

Hingga suatu waktu di nirvana, ketika seorang malaikat bertanya ini itu, kau punya jawaban yang lugas dan tegas. Karena kau telah mengecap sumsum hidup itu, beserta kepahitan dan keindahannya. Kau memakai kaki dan tangan yang kotor, bibir tak bergincu, dan mata yang menyiratkan kepasrahan dan keteguhan di saat bersamaan. Pada saat itu, keabadian berumah di matamu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s