Budaya Jalanan

Hari ini di Jakarta dan kota-kota penyangganya, jalanan adalah ruang yang kacau. Macet sudah terlalu lazim dan dianggap biasa, tak lagi dianggap sebagai penyakit. Kemudian rambu-rambu ditabrak, aturan dipatahkan, dan jalanan menjadi arena pertempuran ganas bagi predator-predator urban kontemporer.

Itu mungkin adalah konsekuensi sebuah kota yang sibuk dimana kapital adalah tuhan dan gedung-gedung pencakar langit adalah gereja. Secara pribadi saya menganggap, tak ada yang lagi yang bisa diselamatkan dari Jakarta. Jokowi dan Ahok bisa saja mengubah sedikit dan memberi harapan, tapi kematian kota ini tak akan terelakkan.

Hal itu tampak di jalanan. Jika anda pernah mengendarai kendaraan di kota lain semacam Solo, Mataram, atau Kupang, anda akan tahu bahwa budaya jalanan di Jakarta parah banget. Motor berbaris di trotoar demi sebuah detik yang terpangkas. Mobil saling sikut demi sebuah ruang yang tak luas. Dan pejalan kaki tak punya tempat lagi dalam kemuraman itu.

Lalu di lampu merah. Tempat yang sesak oleh klakson dimana orang-orang menanti lampu hijau seperti pembalap yang menunggu pistol ditembakkan. Disana orang tak peduli ada zebra-cross. Mereka menunggu lampu hijau di garis pembatas atau melewatinya, peduli setan. Ada kengerian di situasi lampu merah di jalanan Jakarta dan sekitarnya.

Tapi, belakangan ini yang paling meresahkan saya di jalanan ibukota adalah perilaku motor (kadang mobil) yang melawan arus. Tak apa jika melakukannya saat jalanan sepi total. Saya bukan orang yang patuh betul pada aturan, saya juga suka melanggar. Tapi saya tahu konteks. Aturan adalah ‘teks’ dan tiap teks mengandung konteks.

Jadi terkadang saya melawan arus saat hendak menuju minimart di jam 12 malam, atau saat menerobos lampu merah di jam 1 pagi dimana dalam jarak 100 meter tampak tak ada kendaraan lain yang ingin lewat. Saya melakukannya karena konteks yang ada membuat saya merasa pantas melakukan itu (meski tak perlu dicontoh). Tapi saya tak habis pikir dengan mereka yang melawan arus di jam-jam sibuk. Gila.

***

Pada suatu pagi-menjelang, saya mengendarai mobil pulang dari kantor ke rumah. Melewati jalan-jalan yang sepi, hanya berisi beberapa mobil dan motor. Lalu saya sampai di suatu lampu merah di deretan jalan Simatupang. Seperti biasa, saya berbaris menunggu lampu hijau muncul. Juga kendaraan-kendaraan lain.

Namun, kerapihan itu sirna usai sebuah angkot disusul taksi menerobos garis dan menunggu lampu hijau di depan garis pembatas serta mencari celah untuk langsung menginjak gas, mencuri start. Ketololan itu langsung disusul beberapa motor dan mobil yang tadinya mengantre dengan rapih. Bukankah kita, warga jalanan, pernah seperti itu?

Kita awalnya mengantre saat lampu merah, lalu saat angkot atau kendaraan lain, yang entah kenapa biasanya kendaraan umum (semisal angkot dan metromini, atau kendaraan jasa pribadi seperti ojek dan taksi), menyerobot garis, maka kita ikut-ikutan menjadi pelanggar yang patuh pada ‘norma’ saat itu. Saya akui saya pernah melakukan itu.

Saya enggan menuduh atau menunjuk muka orang lain, tapi saya agak curiga pada kendaraan-kendaraan umum itu, yang seolah menjadi garda depan barisan pelanggar jalanan. Saya juga curiga bahwa budaya jalanan kita hari ini sangat terpengaruh oleh apa yang dilakukan (dan dicontohkan) kendaraan-kendaraan umum, sang trend-setter, itu.

Anggapan ini tak saya kesampingkan karena (1) jumlah angkot (sebagai contoh) di Jabodetabek sangat banyak, kita melihatnya dimana-mana, banyak bisa berarti memegang ‘kuasa’, (2) apa yang ‘diajarkan’ angkot pada warga jalanan adalah hal yang logis untuk diikuti, di Jakarta jika anda tak melanggar aturan, anda akan sampai setengah jam atau satu jam lebih lama.

Maka jalanan kita hari ini berisi pelanggaran-pelanggaran yang dimaafkan dan akhirnya membudaya. Melanggar bukan lagi penyimpangan. Bagaimana itu dikatakan menyimpang jika semua orang melakukannya? Dari segi hukum mungkin itu menyimpang, tapi secara sosiologis itu telah jadi norma yang berlaku. Yang tidak melanggarlah yang menyimpang.

Seandainya anggapan di atas benar, tetap tidak tepat untuk menyalahkan kendaraan-kendaraan umum. Karena setelah mereka memberi contoh (yang buruk) pertama kali, motor-motor, yang notabene jumlahnya seperti bintang di langit, mengikuti contoh itu dengan sempurna. Lalu disusul mobil dan semua pengendara di jalanan ibukota.

Maka ia menjadi budaya. Dan kita pun turut serta menjadi warga jalanan yang ber’budaya’.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s