Everest

Pada suatu malam di depan televisi, saya menyaksikan program acara yang bercerita tentang ekspedisi anak-anak Indonesia dalam menaklukkan Everest, tempat tertinggi di dunia. Mereka tampak sebagai pendaki yang taat, yang mencintai gunung sebagai rumah, dan mendekapnya sebagai kekasih. Dan bagi seluruh pendaki, Everest adalah mimpi. Tapi, bukankah kita sudah lama tahu bahwa tak setiap mimpi bisa menjadi nyata?

Demikian pula yang tampak di tayangan televisi itu. Saya lupa jumlahnya, tapi dalam rombongan tim ekspedisi itu, tak semua berhasil menginjak Everest. Sebagian mesti merelakan mimpinya kandas dengan berbagai alasan: cuaca yang parah, fisik yang merosot, dan pelbagai alasan lain. Tentu mereka yang gagal tampak kecewa, tapi ada satu fragmen yang membuat saya bergetar.

Salah seorang pendaki yang gagal ditanyai tentang perasannya. Ya, jelas dia kecewa. Kemudian pertanyaan lain menyusul: apakah ada rencana untuk mencoba mendaki Everest lagi? Jawaban pendaki itu tak pernah saya lupakan. Dia menyatakan bahwa dirinya tak lagi bermimpi mendaki Everest dan ingin fokus mengerjakan hal-hal lain dalam hidupnya, lalu mengatakan “setiap orang punya Everest-nya masing-masing.”

(Saat menulis kutipan itu saya merinding). Ada yang puitik dalam kalimatnya, semacam kepasrahan yang total dalam menerima nasib. Banyak orang yang bermimpi mendaki Everest, saya termasuk kerumunan itu. Tapi tak banyak yang benar-benar berusaha merealisasikannya, menganggapnya hanya sebatas mimpi yang muluk. Saya termasuk bagian kelompok itu.

Namun, pendaki yang gagal itu tak seperti saya (yang tentu bukan pendaki). Dia bermimpi, lalu berusaha, maka dia menuju Himalaya. Di tengah jalan, mimpinya patah, dia gagal. Tapi yang saya suka dari pendaki gunung asli (bukan pendaki gunung kitsch seperti ramai belakangan ini) adalah kemampuan mereka belajar dari alam. Dalam hal ini pendaki yang gagal itu tak sepenuhnya gagal. Dia belajar banyak dari pengalaman.

Dari pelajarannya itulah dia memutuskan bahwa ambisinya menginjak Everest telah mati. Dia tak ingin dirongrong terus nafsu khas darah muda. Dia belajar dan menjadi dewasa. Dia melupakan mimpi itu dan katanya ingin mengejar ‘Everest’ lain dalam hidupnya: mendirikan bisnis dan membangun rumah tangga. Bagi saya menerima kekalahan dengan dengan legowo adalah perbuatan paling ksatria.

Toh itu hanyalah satu kekalahan dari banyak pertandingan lain dalam hidup. Tak perlu terlalu terusik. Di tengah dunia yang kini ramai dengan motivasi untuk mengejar mimpi hingga dapat, apa yang diajarkan pendaki itu adalah sesuatu yang lain. Hidup toh bukanlah soal berhasil atau tidak mencapai Everest. Jika satu Everest gagal dicapai, masih ada Everest-Everest lain yang bisa ditaklukkan.

Advertisements
Posted in ide

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s