Selfie dan Paradoks Kesendirian

Konon, selfie adalah kata terpopuler 2013. Jadi, berarti pula selfie ialah aktivitas populer di tahun yang sama. Mengacu pada kamus Oxford, selfie ialah “a photograph that one has taken of oneself, typically one taken with a smartphone or webcam and uploaded to a social media website”.

Lantas ketika merenungkan kata tersebut, saya terpikir pada situasi dimana saya sedang melakukan perjalanan seorang diri. Di suatu pantai, saya ingin mengambil gambar diri sebagai kenangan. Lalu saya merentangkan kamera sejauh mungkin demi menangkap wajah saya dengan latar lautan yang biru.

Namun saya tak mengunggah ke situs maya atau media sosial, maka ia bukan selfie, menurut definisi Oxford. Tetap saja saya melakukan ‘setengah selfie dan setengah bukan-selfie’, karena saya melakukan kegiatan selfie dengan tidak lengkap. Tapi itu tak penting, mari bicara soal lain.

Pada dasarnya selfie adalah kegiatan yang dilakukan seorang diri (pada tulisan ini saya tak akan membahas selfie yang dilakukan dua orang atau lebih). Karena tak ada orang lain, atau mungkin karena malu difoto orang lain, maka orang memotret dirinya sendiri. Hal ini telah jamak dilakukan sejak handphone kamera muncul.

Apa yang membuat selfie meledak adalah keputusan untuk menyebarkan foto itu melalui media sosial.  Hasrat purba bernama narsisme, serta dorongan absurd dari media sosial hari ini, membuat selfie menjadi fenomena. Saya membayangkan sebuah paradoks disini, tentang kesendirian yang tak sendiri.

Pada mulanya orang sendirian (mungkin juga kesepian) lalu dia menyalurkan kesendirian dan kesepian itu dengan berfoto narsis. Lantas dia membagi pengalaman (kesendirian dan kesepian itu) ke khalayak media sosial, mungkin dengan alasan yang tak tersadari agar dia tak lagi sendiri dan kesepian.

Pada akhirnya adalah ocehan yang ramai dan balas-membalas komentar. Sepi tumpas, kesendirian tandas. Orang tak lagi sepi dan sendiri. Tapi semua itu tak berlangsung lama. Kesendirian dan kesepian muncul lagi, juga selfie, dan saling oceh di media sosial. Semua itu berulang terus menjadi sebuah ritus.

Memang, jelas tak sesimpel itu. Setidaknya selfie mampu menggabungkan kesendirian dan ketidaksendirian, kesepian dan keramaian, menjadi satu paket. Selfie hanyalah proses alamiah manusia untuk memamerkan diri untuk menunjukkan eksistensi, serta mencari orang lain (baca: kerumunan) agar tak merasa sendiri.

Tak ada yang salah dengan selfie, sama sekali tak ada. Hanya, pada tiap hal yang menjadi tren dan menjadi masif, kita patut berhati-hati. Itu saja.

(P.S: Tulisan ini belum selesai, bisa saja patah dengan argumen apa pun.)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s