The Hidden Paradise?

Tempo minggu ini tampil dalam balutan edisi khusus. Judulnya ngeri: 100 Surga Indonesia. Isinya sangat tidak “Tempo” dan lebih mirip majalah travel kelas kakap. Puluhan reporter dan fotografer turun langsung menatap “surga-surga” yang tersembunyi di berbagai pelosok Nusantara. Satu malam sebelum membelinya saya penasaran. Tapi juga takut kecewa.

Kejengahan terhadap gaya hidup travel di Indonesia rupanya belum redup sejak hari-hari menulis skripsi usai. Kadang saya masih gerah menyangkut tema travel, perjalanan, wisata, backpacking, atau apalah namanya. Sejak awal saya tak punya masalah dengan industri pariwisata. Saya lebih kesal dengan industri gaya hidup kita yang penuh kedangkalan.

Oleh karena itu saya ngeri sedikit saat membaca cover depan Tempo minggu ini. Juga permunculannya yang menjelang akhir tahun ini. Saya takut Tempo membuat blunder. Masyarakat kelas atas dan tengah yang membacanya terperangah, lalu sembarang memesan tiket transportasi apapun ke tempat-tempat yang fotonya tersaji di majalah itu. Euforia tumpah ruah, orang-orang tak sabar melihat seperti apa surga yang tersembunyi itu.

Omong-omong soal surga dan kaitannya dengan travel, saya tak pernah bisa lepas dari The Beach. Novel dan film tersebut mengisahkan seorang backpacker Amerika bernama Richard yang berpetualang ke Thailand. Singkatnya disana ia menemukan sebuah hidden paradise: sebuah pulau/pantai cantik yang jarang diketahui orang, jarang dikunjungi wisatawan, masih asri dan patut dijaga kelestariannya. Untuk menjaganya tetap berpredikat sebagai ‘hidden paradise’ para traveler yang menghuni pulau itu menjaga erat-erat kerahasiaan pulau/pantai tersebut. Di satu sisi mereka bisa dikatakan egois, tapi di sisi lain mereka hanya takut. Mereka takut hidden paradise itu tak hidden paradise lagi.

Saya juga teringat kutipan Paul Theroux yang kurang lebih berbunyi: sesaat setelah suatu tempat diberi predikat sebagai surga, tak lama kemudian ia justru akan menjadi neraka. Kita tahu bahwa Theroux tak sedang berbasa-basi, bermetafor, atau berpuisi dengan kata-kata yang kontradiktif. Ia bicara tentang kenyataan yang telanjang. Kita telah saksikan atau baca atau dengar banyak tempat yang awalnya ‘surga’ lalu kemudian berubah jadi ‘neraka’.

Tapi surga dan neraka kadang lebih sebagai kata sifat. Olehnya ia relatif. Surga bagi sebagian orang mungkin neraka bagi yang lain, juga sebaliknya. Maka ijinkan saya mengambil contoh. Bali jauh sebelum Indonesia merdeka dicap sebagai surga oleh petualang-petualang seluruh dunia. Pantai yang cantik, laut yang biru, gunung yang hijau, jalan-jalan yang sepi, masyarakat lokal yang udik, perempuan yang separuh telanjang. Bali lantas diberi predikat yang heboh (sekaligus mengandung nuansa orientalis): eksotik.

Cerita tentang surga bernama Bali lalu tersiar kemana-mana. Orang-orang memang terbiasa menjadi baik, mereka memberitakan kabar tentang surga kepada yang lain. Mungkin prosesnya sama dengan persebaran agama-agama samawi: orang-orang hanya dijejali kisah tentang surga, lalu tertarik masuk agama tertentu. Mereka yang mendengar lalu tertantang dan bergairah untuk menuju Bali, melihat secara dekat seperti apa surga yang dimaksud.

Turis-turis berbondong-bondong ke Bali, menikmati surga yang eksotik itu. Mereka terjebak dalam keindahan yang telah melekat di kepala mereka sejak berangkat dari rumah: Bali itu indah, bali itu surga, nikmati. Lantas semakin lama pulau itu semakin padat oleh kerumunan pencari surga, kemudian menjadi terlalu sesak. Budaya rusak, alam hancur, laut kotor, langit abu: Bali berubah menjadi neraka. Setidaknya dalam perspektif tertentu.

Proses yang sama mungkin terjadi atau akan terjadi pada daerah-daerah lain di Indonesia. Lombok, Toraja, Jogja, Toba, dan sebagainya mungkin telah merasakan sedikit efek yang mirip dengan yang terjadi di Bali. Banyak daerah lain akan menyusul, mungkin. Dan bisa saja terjadi karena Tempo terbit hari Senin lalu.

Saya sendiri tak tahu dimanakah posisi Tempo dalam tren perjalanan yang melanda Indonesia beberapa tahun belakangan. Posisi Tempo dalam pariwisata Indonesia tampak jelas mendukung adanya pertumbuhan wisatawan, baik lokal maupun asing. Tapi pariwisata dan tren perjalanan adalah lain soal. Pariwisata yang dimaksud menyangkut hajat hidup orang banyak, ia sebagai sumber devisa, aset negara yang harus dikelola untuk menyeimbangkan neraca. Tapi tren perjalanan bukan urusan negara. Meski, keduanya jelas berhubungan.

Negara menghendaki masyarakat untuk melek wisata, sesering dan seboros mungkin mengeksplor berbagai atraksi wisata di Indonesia. Sejauh itu tak salah. Yang salah adalah para wisatawan itu tidak diajari, atau diberi panduan yang jelas tentang cara atau etika berwisata yang baik dan benar. Negara lepas tangan sesaat setelah melempar brosur pariwisata. Apa yang terjadi kemudian mereka tak mau ikut campur. Maka alam rusak, budaya luntur, dan bandara macet.

Susah juga memang untuk mengatakan bahwa perlu ada aturan dan panduan berwisata. Itu terkesan mustahil, omong kosong, dan aneh. Sejauh wisata belum jadi budaya yang mengakar dan tetap menjadi gaya hidup yang dangkal, maka selamanya kerusakan akan terjadi di tempat-tempat wisata. Di keluarga dan sekolah, anak-anak tak pernah diajarkan tentang cara berwisata yang baik dan benar. Itu karena dia belum jadi budaya. Oleh karena itu, iba tak hanya diletakkan pada lokasi-lokasi yang menjadi cemar dan “cemar”, tapi juga pada mereka yang tak sadar dalam berwisata: mereka laksana orang yang mabuk, yang tak punya kesadaran, dan membiarkan diri dibohongi untuk terus mengonsumsi gaya hidup yang mereka sendiri tak tahu apa artinya bagi hidup mereka.

Lalu perlukah ia menjadi budaya? Saya rasa perlu, paling tidak sebatas adanya kesadaran penuh tentang nilai dan norma (kalau perlu filosofi) tentang bagaimana dan mengapa kita berwisata. Jelas bukan sebuah aturan tertulis yang dibuat negara, tapi sebuah cara pandang yang melekat di kepala: seperti memberi hormat pada orang tua dan mengetuk pintu rumah orang lain sebelum masuk. Sesederhana itu. Setidaknya itu akan mencegah orang menjadi sekadar obyek manipulasi dari arus jaman dan tren yang sedang menggila. Ikut-ikutan tak masalah pada awalnya, tapi jika selamanya menjadi pengikut yang tolol dan tanpa ada intensi untuk memikirkan lebih lanjut tentang apa yang dilakukan, maka itu mungkin yang dinamakan ketololan yang konstan.

Tapi pembangunan kesadaran dan cara pandang semacam itu tak tampak di Tempo. Yang ada hanya sebatas gambar yang cantik dan tulisan yang bernas menggoda. Dengan bekal kesadaran dan cara pandang yang urung tepat itulah orang-orang kemudian akan mendatangi tempat-tempat yang fotonya muncul di majalah mingguan itu. Mereka hanya akan datang, melihat, membayar dan menghamburkan uang, lalu memotret sana-sini dengan tangan kanan, sementara tangan kiri sibuk dengan berbagai media sosial untuk mengunggah atau melempar kicauan. Inilah jaman dimana langit biru dan lautan hanya sebatas alasan untuk pamer, tak ada kontemplasi, tak ada kebajikan dalam lautan dan langit yang telanjang.

Selesai. // Nov-Des 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s