2013

2013 berlalu. Seperti tiap hal di muka bumi, segala yang bermula pasti berakhir. Segala omong kosong dalam 365 hari terlewati begitu saja, sementara kita sibuk dengan deretan hal-hal yang tak penting. Lalu di ujung tahun kita termenung, “waktu cepat sekali berlalu, rasanya 2012 baru kemarin”. Awalnya ungkapan semacam itu adalah misteri, tapi lama-lama ia jadi klise.

Waktu, dewasa ini hanyalah jarak. Ia merampas kita dan mengoyak kita ke dalam satuan, membuat kita jadi semacam obyek semesta yang pasrah. Tapi tidak. Kita adalah humane yang harusnya punya daya atas takdir. Kita bukan sekadar coretan tangan penguasa, bukan hanya ludah yang terciprat di bumi. Maka kita melukis hari dan tahun dengan gairah, juga momen tentang kegagalan.

Bagi saya, tahun 2013 dapat terangkum dalam tiga kata: Flores, lulus, Sumatra. Semuanya bernuansa baik dan positif. Entah apakah saya mulai lupa jadi pesimis, atau saya mulai terendam resolusi yang saya buat di ujung tahun untuk menjadi makhluk yang lebih optimis dan berpikir yang baik-baik saja. Tentu seperti nasihat Pramoedya, yang buruk-buruk juga tak boleh dianggap tak ada.

Sejak Januari hingga pertengahan Februari, saya berjalan lagi melihat tempat-tempat yang asing. Bersama dua orang kawan, saya menjelajah hingga Flores. Melewati Bali, Lombok, Sumbawa, lalu mencapai Labuan Bajo di barat Pulau Bunga. Lantas kami menghirup udara Ruteng, Bajawa, lalu Ende. Terakhir saya terbang ke Kupang sebelum pulang ke realitas bernama skripsi.

Skripsi awalnya adalah kosakata yang mengerikan. Tapi nyatanya tidak juga. Ia sungguh asyik, asal diselami dengan niat dan gairah. Tanpanya, ia hanyalah kewajiban yang menyusahkan. Maka saya jalani bulan-bulan dengan bertapa di depan komputer, mengetik kata-kata, melakukan wawancara, mendatangi pembimbing, putus asa menanti tanda tangan, lalu sidang dengan hasil yang tak buruk.

Setelah lulus, saya wisuda, menyenangkan hati ibunda. Kemudian saya melancong lagi, menggenapi mimpi untuk menengok Sumatra sehabis menjadi sarjana. Dua minggu saya menyusuri pulau ini dari selatan hingga utara, dari Lampung hingga Medan, melewati Bengkulu, Padang, Bukittinggi, dan Danau Toba. Dari perjalanan ini saya merasa tahu ingin jadi apa setelah lulus. Tapi saya salah.

Menebak pekerjaan setelah kuliah tuntas bukanlah hal yang mudah. Setidaknya bagi saya. Menjadi lulusan universitas bagus membuat saya terlalu percaya diri, ingin coba ini dan itu, seakan pasti masuk. Tapi paling tidak satu tembus dan itu membuat saya terbang ke nirvana selama dua hari pertama. Saya merasakan dengan utuh kalimat itu: i am living my dream.

Lalu rutinitas memakan waktu, membuat saya akrab dengan ibukota, membuat saya kembali menemukan hasrat lama untuk keluar darinya. Tapi waktu berlalu terus dan saya tetap. Di ujung tahun, saya sadar terlalu banyak objektif, target, dan ambisi yang merongrong dada. Tahun depan, selain ingin lebih tidak-pesimis, saya ingin lebih lepas seperti tahun pertama kuliah.

Waktu memang berlalu cepat, dan siapa pun yang bersantai akan tertinggal gegap gempitanya. Tapi, persetanlah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s