Neymar

Saya ingat suatu momen di Piala Konfederasi 2013 lalu di Brasil. Tuan rumah berhadapan dengan Uruguay di laga semifinal yang akhirnya dimenangkan oleh Seleccao. Pada suatu fragmen di televisi, Neymar tampak kesakitan. Wajahnya mengandung nyeri yang meradang. Ia ditekel dengan brutal oleh salah seorang pemain La Celeste. Diego Perez kalau tidak salah.

Entah kenapa, bukannya kasihan pada Neymar atau kesal pada Perez, saya justru tak ambil pusing. Saya malah teringat salah satu esai tenar Roland Barthes saat dirinya berseloroh filosofis tentang gulat. Esainya dalam versi Indonesia diberi judul: Dunia Gulat. Secara garis besar, gulat dalam esai itu adalah teater manusia yang kejam, penuh darah, luka, dan rasa sakit. Tapi di dalamnya pun ada gegap gempita penonton, gairah memukul, dan uang yang bertukar pemilik. Orang-orang menikmati sadisme yang dibuat-buat.

Lantas ketika melihat wajah meradang yang ditunjukkan Neymar, saya membayangkan bahwa ia sedang berpura-pura, berteatrikal layaknya pegulat-pegulat dalam esai Barthes. Ia mungkin saja tak terlalu kesakitan. Mungkin saja tekel Perez tak parah, toh akhirnya Neymar bisa main lagi dan membuat assist di ujung laga. Tapi ekspresi Neymar kala itu terkesan sangat menderita, juga gerak tubuhnya yang mengesankan seseorang yang begitu dikasari.

Tapi yang lebih menarik adalah reaksi setelah fragmen itu. Suara-suara bergemuruh, seisi stadion seperti berteriak, mengutuk Perez, menudingnya sebagai bajingan tengik yang tak karuan, menaruh iba pada Neymar. Yang teringat kemudian adalah penonton-penonton dalam acara-acara gulat hiburan di televisi itu, juga penonton-penonton gulat yang digambarkan Barthes: mereka yang bersorak, berteriak, dan mengutuk, terutama ketika melihat darah dan tendangan yang telak.

Orang-orang boleh membenci Perez, tapi mereka harus tahu bahwa mereka sebenarnya mencintai Perez karena aksinya itu. Tanpa peran yang diusung Perez, sepakbola tak akan sebergairah itu. Penonton akan kecewa karena pertandingan begitu datar, tak ada gegap gempita yang tumpah, tak ada teriakan yang ramai, dan sepakbola hanyalah permainan yang terlalu bersih. Dan pada sebuah iklan sabun cuci kita sadar bahwa “berani kotor itu baik”.

Saya belum tahu pasti apakah Neymar benar-benar kesakitan saat itu. Seperti banyak rekan seprofesinya, ia mungkin sedang berdrama di detik yang tepat, meminta welas asih wasit dan penonoton sejagat, mengonstruksi dirinya sendiri sebagai pemain lincah nan jago yang harus dihajar keras untuk dihentikan. Ia mungkin sedang memainkan perannya sebagai petarung yang baik dan membiarkan Perez berakting sebagai petarung yang kasar. Ia tahu ia perlu sedikit pura-pura untuk menghibur khalayak.

Di akhir laga, semua tahu bahwa yang baiklah yang menang. Sepakbola terkesan mudah ditebak seperti hasil akhir sebuah partai gulat yang seru. Saat Neymar mencetak assist penonton tuan rumah bersorak-sorai, mengelu-eluan sang jagoan. Wasit seakan mengangkat tangan Neymar tinggi-tinggi dan menobatkannya sebagai juara. Sejak awal laga Neymar tahu ia akan menang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s