Belenggu

Suatu malam saya mampir di Blok M dan menuju kios-kios buku di basement yang legendaris itu. Saya mencari-cari, atau lebih tepatnya saya dicari-cari oleh, buku. Siapa tahu mendapat buku bagus disana. Akhirnya saya pulang membawa dua buah. Pertama, The Sicilian-nya Mario Puzo. Kedua adalah Belenggu.

Cerita soal saya dan Belenggu lumayan menarik. Pertama saya mengetahuinya di salah satu Majalah Horison yang tertumpuk di salah satu meja di sudut Rumah Puisi Taufiq Ismail di Aie Angek, Sumatera Barat. Lantas dalam perjalanan menuju Parapat dari Bukittinggi, saya sempat melewati Muara Sipongi, tempat kelahiran si pengarang, Armijn Pane.

Maka ketika di Blok M malam itu saya melihatnya di antara buku-buku lain, angan saya berputar ke masa silam. Ke suatu sore di Aie Angek yang basah oleh gerimis. Ke fragmen Muara Sipongi yang terekam di kepala: kota kecil dengan rumah-rumah kayu kecil, sungai-sungai yang lumayan lebar, dan pemandangan Bukit Barisan yang megah.

Saya lantas membayarnya dan mulai membacanya beberapa hari kemudian. Dari gaya bahasanya, saya agak kaget. Sudah lama rasanya tidak membaca sastera dengan gaya lama seperti itu. Baik dari segi bahasa, ejaan, dan suasana yang dihadirkan Armijn, semuanya terkesan oldies bagi saya.

Inti cerita adalah pergulatan hidup yang dialami Sukartono, seorang dokter yang merupakan suami sah dari Tini. Sang dokter kemudian diceritakan “berselingkuh” dengan Yah atau Siti Haryati. Roman segitiga itu berakhir dengan berpisahnya Sukartono dari kedua perempuan itu di ujung novel.

Sejak awal buku, yang membuat saya bisa bertahan sampai akhir adalah rasa penasaran saya tentang kenapa judul buku tersebut Belenggu. Yang saya dapat adalah Armijn ingin membisikkan bahwa kita manusia dijerat oleh belenggu angan-angan masing-masing. Itulah yang menjadikan inti mengapa problematika muncul dalam hidup.

Konon, Belenggu memang dianggap sebagai novel psikologis pertama di Indonesia karena mengisahkan konflik batin tokoh didalamnya. Dalam menuliskannya, Armijn dikisahkan terinspirasi oleh psiko-analisis Sigmund Freud. Selain itu, Belenggu juga kerap dipandang sebagai salah satu titik penting dalam perkembangan sastera modern Indonesia.

Wacana soal emansipasi perempuan juga tampak mendapat tempat dalam Belenggu. Hal ini menjadi wajar mengetahui bahwa Armijn-lah yang menerjemahkan surat-surat RA Kartini menjadi kumpulan Habis Gelap Terbitlah Terang. Tokoh Tini dikisahkan sebagai contoh perempuan “modern” Indonesia.

Meski secara pribadi agak membosankan, saya tak kaget jika suatu waktu dalam hidup ini saya teringat lagi dengan Belenggu. Mengingat-ingat bahwa hidup hanyalah penjara yang membelenggu, dengan angan dan mimpi sebagai jeratnya. Selebihnya manusia hanyalah narapidana yang takkan pernah bebas.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s