Ekstasi

Mungkin saja kerja adalah semacam ekstasi, yang membuat segala menjadi kabur. Hingga akal hilang dan selamanya orang terjebak di dalamnya. Keluar sama dengan mengundang bencana jiwa. Karena orang terbiasa dengan waktu yang terhimpit dan weker yang berteriak. Waktu yang terlampau kosong sama menakutkannya dengan lautan luas yang tanpa ujung. Membikin ngeri.

Dalam kengerian itu, ekstasi dicari, kerja dicari, untuk membuat lega. Tak masalah menjadi buruh, atau budak, atau kelas menengah berdasi yang tetap saja budak. Asal waktu mati dan siang terisi, pagi terkesan sibuk, dan malam dapat tidur dengan pulas. Selamanya adalah jebakan. Selamanya adalah kecanduan. Hingga kelak orang menjadi tua dan lupa cara menjadi diri sendiri. Menyedihkan.

Memang kisah peradaban adalah kisah tentang kemuraman, atau kebahagiaan yang dibuat-buat. Justifikasi dibuat, alasan dikarang, omong kosong diumbar. Agar orang puas dan tak merasa salah, merasa apa yang dilakukannya memang seharusnya demikian. Karena jika orang tahu apa yang sebenarnya, ia akan jadi gila, jadi merasa tolol, jadi semacam puing-puing yang berserak di kesunyian.

Maka kantor-kantor penuh, jalanan macet, uang-uang berputar. Demikian pula mal-mal sesak, bandara ramai, dan segala jenis hiburan laku untuk menghibur budak yang jiwanya telah dipreteli kekejaman peradaban dan nasib. Agar orang lupa pada siksa dan derita, dan merasa senantiasa bahagia dengan segala jenis kepalsuan hiburan dan wisata. Akhirnya yang nyata dan palsu mengabur.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s