The Alienist

The Alienist adalah novel detektif karya Caleb Carr yang pertama kali dipublikasikan pada 1994. Buku ini menemani saya saat melakukan perjalanan ke Sumatera bulan lalu. Agak tidak biasa memang saya membawa sebuah novel detektif saat melakukan perjalanan, apalagi tentang pembunuhan. Saya menemukan buku tersebut di lemari buku ayah saya. Saya tertarik karena judulnya: Alienist.

Judulnya mengingatkan saya pada novel The Heart is A Lonely Hunter yang menceritakan tentang pribadi-pribadi yang “teralienasi” dari masyarakatnya. Saya pikir The Alienist akan seperti itu. Saya tidak sepenuhnya salah. The Alienist memang menceritakan tentang orang-orang yang terpinggirkan, yang berbeda (atau dibedakan) dari masyarakat. Tapi jelas The Alienist dan The Heart is A Lonely Hunter beda tipe.

Latar yang dipakai Carr pada novelnya adalah New York tahun 1896. Cerita berpusat pada upaya sejumlah orang yang ditugaskan Theodore Roosevelt (yang saat itu menjadi kepala polisi NY, belum jadi presiden) untuk mengusut peristiwa pembunuhan berantai yang khas. Pembunuhan atas anak-anak pekerja seks waria yang berada di bawah umur, yang disiksa habis-habisan saat dibunuh.

Tokoh utama dalam novel ini bisa jadi adalah Laszlo Kreizler, seorang alienist. Alienist disini adalah psikolog yang tertarik untuk menangani kasus orang-orang dengan gejala kejiwaan yang “khusus” atau “aneh” atau “menyimpang”, dan biasanya sering terlibat di pengadilan kriminal untuk membela kriminal-kriminal yang diduga memiliki masalah mental yang membuatnya berlaku kriminal.

Kreizler, bersama dengan John Moore (wartawan NY Times), Sara Howard, Lucius dan Marcus Isaacson (ketiganya adalah detektif di kepolisian) merupakan anggota tim detektif tersebut. Cerita bermula dari pembunuhan Georgio “Gloria” Santorelli yang merupakan salah satu korban dari pembunuh serial kejam yang dicari-cari. Kekhasan pembunuh itu adalah mencongkel bola mata korban-korbannya sebagai “koleksi”.

Dengan metode psikologi dan sidik jari (yang waktu itu belum populer), tim detektif berusaha untuk menyingkap jati diri pembunuh. Dari serangkaian pengamatan terhadap bukti-bukti, didapat teori bahwa tampilan korban merupakan cerminan kerusakan-kerusakan (mental dan fisik) yang dimiliki si pembunuh. Kreizler meyakini teori bahwa apa yang dilakukan si pembunuh diakibatkan karena apa yang terjadi pada masa lalunya.

Setelah pencarian lama, si pembunuh akhirnya terungkap. Ia memang memiliki masa lalu yang menciptakannya menjadi pembunuh berseri yang kejam. Ia anak yang tak diharapkan oleh ibunya, sering diomeli ayahnya yang pendeta, pernah dicabuli saat remaja, menikmati saat-saat membunuh binatang kecil, meniru foto-foto yang dilihatnya tentang pembunuhan orang ala suku Indian, dan juga membunuh kedua orang tuanya.

Dengan segala latar belakangnya yang berhasil diungkap tim detektif, si pembunuh akhirnya dapat diketahui. Namun saat penangkapan yang sudah disusun dan ditebak waktunya (sesuai tanggal-tanggal relijius umat Kristen), si pembunuh justru tewas terkena tembakan. Cerita pun berakhir dengan kesimpulan bahwa si pembunuh secara mental tidak gila dan membunuh dengan kesadaran penuh untuk memuaskan dirinya.

Secara garis besar, Carr membuat novel ini menarik karena menggabungkan elemen detektif, psikologi, dan sejarah dalam penulisannya. Deskripsi yang tajam, tokoh-tokoh yang digambarkan memiliki kepribadian unik, dan cara Carr menggabungkan ulasan-ulasan psikologi maupun per-detektif-an juga brilian. Saya kira The Alienist memang bukan novel terbaik untuk dibawa saat perjalanan, tapi ia tetap salah satu karya yang indah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s