Kuartet Buru

Setelah lulus saya jadi lebih banyak baca buku. Mungkin semacam bayar utang. Atau karena memang terlalu banyak waktu senggang. Jadi, saya ingin menulis tentang buku-buku yang saya baca dalam masa “sabbatical” ini. Tentu bukan bentuk resensi, hanya sekedar gumam sambil lalu tentang buku yang habis ditelan. Saya mulai dari Kuartet Buru. Membacanya termasuk dalam daftar “hal-hal yang harus saya lakukan dalam hidup.”

Sebelum membaca keempat buku Tetralogi Buru, saya adalah orang yang skeptis pada sastra Indonesia. Saya lebih sering dan lebih suka membaca buku-buku tulisan orang luar daripada tulisan orang sendiri. Buat saya pengarang-pengarang kita terlalu banyak basa-basi. Tentu itu anggapan dan tudingan yang tak terlalu berdasar, hanya asal kecap, hanya asal rasa. Skeptisme itu toh akhirnya luntur oleh hasil kerja Pramoedya Ananta Toer selama di Buru.

Tak usahlah saya ceritakan disini tentang Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. Sudah banyak resensi yang ditulis untuk keempatnya. Singkatnya, keempatnya bicara tentang seorang bernama Minke. Tapi Minke dan kehidupannya disini hanyalah cara yang digunakan Pram untuk menggambarkan isu yang lebih besar, yang mencakup skala nasional, bahkan global.

Bagi saya disitulah kehebatan Kuartet Buru. Fenomena nasional (juga global) dalam periode-periode waktu tertentu dikisahkan dengan cantik dari sudut pandang mikro, sudut pandang yang personal dan dekat. Itulah rasanya yang membuat Kuartet Buru menjadi fenomenal, menjadi sastra terbaik Indonesia. Dari keempatnya, favorit saya adalah Anak Semua Bangsa.

Untuk total lebih dari 1000 halaman, keempat buku tersebut sama sekali tak membosankan untuk dibaca, termasuk bagi orang yang biasa membaca lama sebuah buku. Cerita Minke dan Pangemanann sangat mengalir dan membuat saya begitu larut, hingga jam-jam tak terasa, dan sebulan habis untuk membaca keempatnya. Sejak itu, saya jadi terbiasa membaca buku-buku tebal dalam waktu yang tak terlampau lama.

Namun, yang terpenting dari kesan saya terhadap Kuartet Buru adalah sebuah hal. Setelah selesai membaca, yang terpikir di kepala saya hanya satu (atau dua): setiap orang Indonesia harus pernah baca keempatnya dan seharusnya buku-buku tersebut dijadikan bahan bacaan wajib di sekolah-sekolah. Saya pikir itu penting untuk membuat orang Indonesia melek sastra Indonesia sejak di bangku sekolah, juga untuk menebus dosa Orde Baru yang membakar karya-karya Pram.

Pada akhirnya saya hanya ingin berterima kasih dengan meminjam kalimat persembahan Laksmi Pamuntjak pada awal buku-nya Amba: (terima kasih) untuk mereka yang pernah ditahan di Pulau Buru, yang telah memberiku sepasang mata baru.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s