Batas

Menyerah adalah satu hal. Mengenal batas adalah hal lain. Selamanya akan ada batas yang tak bisa ditabrak. Memahami saat yang tepat untuk itu adalah sebuah nasib.

Saya membayangkan adegan berikut:

Seseorang berdiri goyah. Tubuhnya doyong ke kanan, ke kiri, tertabrak angin yang tak pelan di pinggir danau yang cantik. Di pandang matanya adalah keindahan surgawi, tempat dimana waktu berhenti dan batas ruang menjadi kabur: ia di nirvana. Ia berjalan terlalu jauh sampai di tempat itu. Menguras uang dan waktu, meminta ijin yang pasrah ke orang rumah, mengemis untuk menunda waktu bagi sesuatu yang dianggap penting bagi sebagian besar umat manusia.

Di dalam dirinya tumbuh sesuatu yang tak lazim, yang tak pernah jelas namanya. Jaman baru lalu mengemasnya menjadi sesuatu yang kitsch, dangkal, dan banal. Tapi sebuah jati diri seseorang yang mencarinya dengan susah payah tak pernah lahir dari televisi dan kertas tabloid. Ia tumbuh dan berakar di dalam diri, tak pernah mati, meski kadang disiram oleh keadaan, situasi, dan perkembangan: termasuk televisi dan segala kebesaran jaman yang maju.

Di tepian danau itu, ia berpikir tentang takdir, tentang kenyataan, tentang batas yang memisahkan keduanya, juga tentang jembatan yang menyambungkan keduanya. Ia persis seperti seorang pertapa yang letih, yang harus memilih atau tidak memilih sama sekali. Ia seperti seorang analis yang menimbang-nimbang dengan matang, tapi juga tampak seperti pelaut yang pasrah pada lautan yang telah jadi kawan karibnya, yang bisa saja menjadi ancaman baginya.

Pada waktu itu, ia sedang berdiri-diri di persimpangan. Jalan di belakangnya telah tertutup kata-kata yang mengkhianatinya, dan jalan di depan terlalu samar dan kabur. Dalam ketidakbergerakan itu, ia hanya bingung tentang dirinya, tentang apa yang telah lalu dan akan datang, tentang kenapa ini dan kenapa itu. Ia belum bergerak satu senti pun. Dan itu membuatnya lega. Tapi juga tega.

Kemudian ia teringat kata-katanya sendiri tentang batas, tentang menyerah, tentang kata-kata yang fantastik, dan tentang dunia yang riil. Ia dihadapkan pada segala yang menghantamnya dari seluruh penjuru mata angin. Sesuatu menabrak dirinya dari segala arah, membuatnya goyah dan gentar, membikin kakinya payah dan matanya pejam. Ia berharap semua hanya mimpi yang jelek.

Tapi ia sadar sepenuhnya. Di titik itu, ia tahu, hidup adalah sederhana dan rumit secara bersamaan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s