Nasihat dari Balik Jeruji di Buru

Sering saya sudah rebah di kasur ingin tidur, tapi pikiran bermain-main, berpikir tentang macam-macam. Lantas sebuah ide timbul, lalu saya ingin menuliskannya. Akhirnya saya pun urung tidur, malah bangkit kembali ke meja, duduk di kursi, mengetik kata-kata. Seperti halnya sekarang. Maka saya menuliskan ini.

Yang terngiang  di kepala (sudah sejak kemarin) adalah sebuah nasihat dalam cerita hidup Minke yang masyhur dituliskan Pram sebagai tetralogi Buru itu. Alkisah suatu sore, Kommer mengunjungi Minke dan Nyai Ontosoroh di Tulangan, di tempat tinggal Sastro Kassier, adik Nyai Ontosoroh. Kommer, wartawan itu, kemudian disodori Minke sebuah tulisan tentang Surati, anak Sastro Kassier yang dijual pada administratur perusahaan gula.

Cerita Minke adalah cerita yang pedih: mirip dengan kisah Nyai Ontosoroh yang dijual ayahnya ke Mellema beberapa tahun sebelumnya. Selain cerita itu, di Tulangan dalam kondisi sedang berlibur itu, Minke juga menuliskan kisah lain tentang Trunodongso, seorang petani miskin yang senantiasa ditindas penguasa. Kedua cerita itu memiliki benang merah: getir, pedih, sedih, atau segala macam rasa yang serupa dengan ketiganya.

Lalu Kommer memberi komentarnya tentang tulisan Minke, lebih sebagai sebuah kritik. Secara garis besar, Kommer bilang tulisan Minke baik. Hanya ia mempermasalahkan sebuah hal, dan bukan soal tulisan. Ia gelisah pada cara pandang Minke dalam tulisan-tulisannya yang senantiasa mengandung kegetiran, kepedihan, dan kesedihan itu. Seakan-akan tidak ada keriangan dalam kehidupan. Terlalu serius dan tak pernah bermain-main, katanya.

Kommer seakan menuduh Minke selalu memandang hidup sebagai ruang yang sedih dan sendu, penuh kebiruan yang merajalela. Tak pernah ada kesenangan terpancar dalam cara pandangnya, terlalu terfokus pada sisi-sisi yang gelap. Seperti memakai kacamata yang hanya dapat melihat hal-hal negatif, sedang yang positif sama sekali buta. Hidup jadi padang gersang yang sia-sia dan tak pantas dihidupi.

Kommer mungkin benar. Pesimisme yang berlarut-larut dalam memandang hidup mungkin sesuatu yang tajam, yang lambat laun bisa menusuk-nusuk hingga mati. Sesekali optimisme memang perlu. Tapi Minke pun tak salah ketika ia membela diri bahwa hidup yang ada saat itu memang hidup yang penuh nestapa. Ia jujur dan tak menutup mata pada kenyataan pahit yang disaksikan dan didengarnya.

Pada akhirnya mungkin kalimat Kommer ini menjadi simpulan yang pas: “yang lebih penting lagi adalah dapat menikmati hidup dan keindahannya, juga tidak menutup mata terhadap borok-boroknya.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s