Jarak

Dalam awalan Anak Semua Bangsa, Pramoedya menuliskan paragraf ini:

“Orang bilang apa yang ada di depan manusia hanya jarak. Dan batasnya adalah ufuk. Begitu jarak ditempuh sang ufuk menjauh. Yang tertinggal jarak itu juga — abadi. Di depan sana ufuk yang itu juga — abadi. Tak ada romantika cukup kuat untuk dapat menaklukkan dan menggenggamnya dalam tangan — jarak dan ufuk abadi itu.”

Dalam jaman dimana jarak diberangus oleh layar dan sinyal, masihkah ia berarti? Seperti kata Pram, ia senantiasa ada. Abadi. Tak terkecuali ia dipepet teknologi dan perkembangan daya pikir. Jarak, yang tak harus berarti ukuran meter dan sentimeter, tetaplah mengandung makna. Dan seperti setiap segala hal yang mengandung makna, kadang ia membikin nyeri. Namun juga pada tiap nyeri, yang datang kemudian adalah keikhlasan.

Pada jarak sebenarnya kita bertumpu. Meruncingkan rasa untuk memahami hari-hari, juga segala isinya yang seperti misteri. Mempelajari bahwa dalam hidup segala hal hanyalah bukan-kita, dan kita bukan apa-apa, selain sesuatu yang dikelilingi jarak. Jaraklah yang membuat kita merenungi bahwa menjadi diri sendiri adalah pilihan yang tak dapat ditawar-tawar. Seperti kata Chairil, nasib adalah soal kesunyian masing-masing.

Karena jarak pula, kita mengenal apa yang dinamakan rindu. Kerinduan adalah ketidaksampaian pada ufuk yang abadi itu. Ia muncul dalam kesadaran bahwa ada keterpisahan yang selama ini tak disadari. Ketika ia muncul dalam kesadaran, yang hadir justru kesakitan-kesakitan. Selanjutnya untuk menghilangkan kesakitan itu, yang perlu diusir adalah kesadaran yang memunculkannya. Maka orang mencari segala cara untuk menjadi tidak sadar.

Jarak lantas ditolak, diubah jadi ukuran-ukuran matematis. Sedangkan keabadian jarak-ufuk yang lebih sentimental menjadi obrolan yang usang. Perlahan juga terjadi pada yang lain yang dihasilkan jarak: makna, ikhlas, misteri, renungan, nasib, diri sendiri, dan kerinduan. Mereka jadi usang. Lantas yang usang marak lagi sebagai bahan jualan. Mereka yang usang terangkat lagi. Hanya menjadi dangkal.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s