Lelaki Tua dan Lautan

Tiba-tiba saya teringat The Old Man and The Sea karya Ernest Hemingway. Tak jelas kenapa saya mengingatnya. Saya lantas membayang lautan, kapal kecil Santiago, sebuah ikan besar, matari. Cerita tentang lelaki tua dan lautan itu kemudian melintas di kepala seperti sebuah film yang terputar. Semuanya jelas, sekaligus samar.

The Old Man and The Sea adalah salah satu kisah yang selalu saya suka. Saat pertama kali membacanya saya bingung: cerita macam apa ini, kenapa bisa menang nobel. Tapi mendakwa sebuah bacaan sebelum membacanya hingga tuntas memanglah sebuah dosa. Tak sekali dua kali saya melakukan dosa itu.

Selain The Old Man and The Sea, karya lain yang bernasib sama adalah On The Road-nya Jack Kerouac. Saat membacanya, saya senantiasa mempertanyakan motif saya terus membaca cerita membosankan yang sedang saya baca. Tapi pada akhirnya, di ujung, pengarang yang baik tahu betul cara menyenangkan pembacanya.

Nyatanya, selepas saya tutup buku klasik itu, saya tak pernah lupa cerita di dalamnya. Setelah selesai saya baru tahu keseluruhan makna cerita. Lantas saya menarik kesimpulan: ini kisah yang pantas memenangi nobel. Tentu subyektivitas itu mengandung keraguan, tapi secara personal, kisah Santiago adalah mahakarya.

Saya ingat pada suatu masa dimana hidup terasa membosankan dan tak bertujuan, saya tiba-tiba teringat pada Santiago dan kisahnya. Seperti biasa, tak jelas kenapa. Ia seperti semacam simbol untuk kehidupan yang bergulir. Kisahnya memang bukan motivasi yang baik untuk hidup, tapi kenapa ia berarti?

Mungkin karena ia real. Puncak dari The Old Man and The Sea bagi saya adalah kegagalan Santiago dalam menaklukkan si ikan besar, sekaligus menambah panjang rentetan kesialannya menjadi 85 hari, kalau tidak salah. Saya berhutang pada Hemingway, karena ia tak membuat happy ending pada kisahnya.

Mengingat Santiago adalah melihat realitas: manusia ditakdirkan untuk bekerja keras, menaklukkan “lautan”, menangkap “ikan”, dan memenangi keberuntungannya dengan tangan sendiri. Tapi, di balik semua usaha itu, kita tahu kita bukan siapa-siapa: kita hanya serpihan kecil di laut dan di  bawah langit.

Tapi persetan dengan kegagalan. Ia sama sekali bukanlah sesuatu yang perlu didramatisir atau diratapi. Tak masalah Santiago kembali ke pantai dengan ikan yang tinggal tulang belulang:  tak masalah dengan kegagalan. Toh hidup memang seperti itu: permainan yang tidak harus kita menangkan, tapi nikmatilah.

Advertisements

2 thoughts on “Lelaki Tua dan Lautan

  1. Tapi Hemingway sukses menyunggingkan senyum pembaca di akhir cerita menurut gw. tepatnya ketika ada yg bilang ekor ikan tersebut indah dan tampan. dengan ekor, kalau cerita diteruskan, akan bergulir cerita ttg bagaimana perjuangan hingga ikan itu ditangkap,, sebuah pencapaian meski tak seutuhnya ikan sampai di pantai..

    Like

  2. Wah gw suka sekali tulisan ini 😀 pertama kali dulu sempet kesel baca Hemingway. mononton. tapi pas baca sampai habis, ada kesan tersendiri yg tinggal entah apa, yg kadang2 kesan itu hadir lagi di waktu2 lagi ga baca ceritanya. pas sekali rasanya pas lu bilang ni cerita kaya “semacam simbol untuk kehidupan yang bergulir”.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s