Setelah Lulus, Lalu Apa

Empat tahun melintas
Tanpa angin, tanpa bunyi
Sedang di pojok, seorang bertoga menatap langit-langit
Mukanya pucat mengandung perih
Tadi malam seorang ibu memberi banyak tanya, menyuruh kerja
Si anak merengut meminta waktu untuk ongkang-ongkang kaki, di rumah, di pantai
Si ibu bingung menatap si sarjana baru, masa nganggur?

Aku ingin santai dulu, tak menjadi babu siapa-siapa, tak sekolah atau korporat
Memeluk guling dengan khusyuk, menyimak bertumpuk film amerika eropa, membaca buku-buku bagus, menulis sajak yang payah
Setelah itu mencari uang untuk pelesir, ke sumatra, papua, kemana-mana
Baru aku serius masuk kantor, berangkat pagi pulang sore di jakarta yang rimba
Tapi takkan lama bagiku mengadu takdir di ibukota
Lantas kereta akan mengantar menuju jogja, atau surakarta, mungkin bali
Disitulah tetap tanganku merenda masa depan, mencari bini, memakan nasi setiap hari
Jika ada tuhan baik, aku mau saja sekolah lagi, tapi tak disini, di negeri penuh basa-basi

Si ibu bergeming, lalu berkata-kata yang sangat ibu
Carilah hidup tenang di kota orang, tak harus di sudirman
Tapi kenapa tak mau mencari rejeki di ibukota, seperti orang-orang berijasah bagus?
Si anak menatap bukan mata ibunya, membuka majalah sambil menjawab
Apa yang lebih patetik dari menjadi budak di kota yang berisik?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s