Grosso

Saya baru saja membuka Twitter dan mendapati berita yang menarik. Fabio Grosso menjadi asisten pelatih Juventus Primavera. Ia akan menemani pelatih baru Primavera, yakni Andrea Zanchetta yang ditunjuk menggantikan Marco Baroni yang pindah ke Lanciano sebagai pelatih tim utama. Mendapati Grosso kembali menjadi bagian dari Juventus adalah sesuatu yang nostalgik.

Saya bingung bagaimana mendeskripsikan Grosso. Saya seperti menyukai sekaligus membencinya secara bersamaan. Ini tentu aneh: memelihara dua perasaan yang bertentangan. Tapi demikianlah hidup. Kita seringkali dibuat takjub tentang bagaimana perasaan bermain, dan selanjutnya kita hanya menerima dengan pasrah. Grosso adalah contoh paling nyata buat saya tentang gabungan dua rasa yang bertolak belakang.

Musim 2011/12 adalah musim terakhir Grosso sebagai pemain bola. Di Juventus musim itu, ia hanya bermain 2 kali, yaitu melawan Siena dan Catania. Setelah dua laga itu, ia seperti hilang atau dilupakan seperti barang rongsok. Namanya tak ada lagi dalam daftar pemain yang berlaga untuk Juve. Di akhir musim, kontrak Grosso berakhir. Beberapa saat setelah itu Grosso memutuskan pensiun mengingat tak ada tawaran dari klub manapun untuknya.

Sudah saya bilang, saya menyukai Grosso, tapi tak sepenuhnya. Saya membenci Grosso, tapi juga tak total. Ada area abu-abu yang dapat diisi olehnya. Semua jelas berawal di Jerman 2006. Kala itu, Italia menjadi juara dunia untuk kali keempat. Dari sekian legenda yang menghiasi skuad Azzurri saat itu, nama Grosso yang paling saya ingat sebagai sosok paling menentukan di turnamen.

Siapa yang akan lupa diving indahnya di 16 besar melawan Australia? Di injury time, wasit memberi hadiah penalti karena Grosso pura-pura terjatuh. Francesco Totti dengan dingin mengoyak jala gawang Mark Schwarzer. Italia terus melaju. Di perempat final, Ukraina dibantai. Lalu musuh berat sekaligus tuan rumah menanti di semifinal. Italia jelas tak diunggulkan. Tapi sejarah selalu punya cerita yang tak biasa.

Menghadapi Jerman yang tampak perkasa, Italia tampak terlalu tangguh bagi anak-anak muda bangsa yang sombong itu. Signal Iduna Park yang gemuruh tak sanggup meruntuhkan mental Italia. Grosso lantas jadi pahlawan. Pertandingan seperti akan berakhir lewat adu penalti sebelum Grosso mencetak gol ke gawang Jens Lehmann di menit 119. Del Piero kemudian menyempurnakan pesta semenit berselang.

Di final melawan Prancis, Grosso kembali jadi penentu. Gol heroiknya di partai versus Jerman rupanya bukanlah capaian monumentalnya di Jerman 2006. Adalah dirinya yang menjadi penendang penalti terakhir Italia yang memastikan gelar juara dunia kembali ke Eropa Selatan. Italia berpesta ditengah drama calciopoli. Grosso, dari bukan apa-apa menjadi pahlawan nasional.

Grosso melanjutkan hidup di Inter Milan dan Olympique Lyon sebelum berlabuh ke Juventus pada musim 2009/10. Di Juventus, Grosso datang dalam waktu yang tak baik. Dua musim penuh yang dijalaninya sebagai pemain tim utama adalah musim-musim dimana Juventus adalah tim yang sakit. Di dua musim itu secara berturut-turut, Juve menempati posisi 7 di klasemen akhir.

Grosso pun dianggap sebagai bagian penting dari kegagalan itu. Ia jelas bukan sosok yang sama yang memenangkan Italia di Olympiastadion. Tapi bagaimanapun parah permainannya, dan betapapun bencinya saya melihat namanya di starting eleven Juventus, Grosso tetaplah juara dunia. Dan predikat itu mengandung sesuatu yang tak main-main. Ia sendiri membuktikannya.

Saya ingat sebuah partai melawan AS Roma di Olimpico pada April 2011. Itu adalah partai pertama dimana sejak awal saya merasa Juventus akan kalah. Sebelumnya, meski separah apapun kondisi tim, sebelum laga saya selalu yakin Juve bisa menang. Tapi saat itu, saya pasrah. Juventus memberikan ban kapten pada Claudio Marchisio, kapten nomor 4. Del Piero, Buffon, dan Chiellini cedera.

Hal itu tentu menggambarkan bahwa skuad Juventus waktu itu porak-poranda akibat cedera. Tapi ditengah badai dan kepasrahan akan kekalahan, keajaiban kadang punya caranya sendiri untuk hadir. Fabio Grosso mencetak 2 umpan yang menjadi 2 gol bagi Bianconeri di laga itu. Pertama untuk Milos Krasic, kedua untuk Alessandro Matri. Tapi pertandingan itu belum tentu saya ingat hanya karena dua assist itu.

Saya ingat sebuah momen dimana Grosso berlari ke depan membantu serangan, lalu bola direbut pemain Roma. Bola sudah menyentuh lini pertahanan Juve ketika saya melihat seorang pemain berjalan dengan santai sambil melihat kawan-kawannya bertarung merebut bola. Pemain bernomor 6 itu berjalan, benar-benar berjalan. Ia tak peduli bahwa posisinya adalah pemain belakang. Ia berjalan.

Partai Juventus versus Roma itu pada akhirnya menjadi landmark bagi saya untuk melihat keseluruhan karir Grosso. Ia adalah pemain yang mencetak 2 assist dan berjalan santai menuju posnya. Ia selalu saya benci: pertama karena memang medioker, kedua karena sempat bermain di Inter. Tapi secara bersamaan, ia selalu saya cinta: pertama karena diving itu, kedua karena gol di Dortmund, ketiga karena penalti ke gawang Barthez.

Saya lantas bingung ketika Grosso pergi dari Juventus dan kemudian pensiun, juga ketika ia kembali ke Juve sebagai asisten pelatih tim junior. Ada kesenangan dan kebencian yang datang sekaligus pada saat-saat itu. Saya senang Grosso pergi dari Juve, tapi sedih juga. Saya kecewa manajemen menunjuknya sebagai asisten pelatih, tapi juga gembira ia kembali ke Turin. Entahlah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s