Klampok

Apa yang lebih menarik dari sebuah perjalanan dari mendatangi sebuah tempat dengan nama yang sebelumnya tidak pernah kita tahu, kita dengar, kita baca? Pertama, sebagai makhluk, manusia senantiasa ingin menjadi berbeda meskipun dalam kedangkalan yang membawa pada persamaan. Kedua, perasaan tersesat pada akhirnya memberikan gairah yang lebih membebaskan dari kehidupan yang lurus-lurus saja.

Tapi ada yang lebih dalam dari itu. Sekitar dua minggu lalu saya mendatangi sebuah tempat bernama Klampok, sebuah lokasi dalam peta yang dekat dengan Banyumas dan termasuk bagian dari Purbalingga. Klampok, konon menurut tante saya, adalah sentra penghasil produk-produk berbahan dasar keramik. Tapi bukan Klampok yang penting, atau bukan keramik yang penting.

Selalu ada perasaan yang sama persis setiap saya menginjak tempat yang bernama asing di telinga. Semacam ada kalimat yang mengapung di kepala yang berbunyi, “oh ternyata ada juga kehidupan disini” yang kurang lebih berpadanan dengan kalimat “oh hidup tuh bukan di Jakarta atau Depok doang”. Dari kata-kata itu yang selanjutnya muncul adalah perasaan kecil diri dan gairah untuk terus berjalan.

Dari situ kita jadi tahu bahwa kehidupan nyatanya bergulir masing-masing di setiap ruang dan waktu dengan tokoh yang berbeda-beda dengan budaya dan bahasa yang berbeda-beda pula. Selanjutnya harusnya kita jadi tahu bahwa di dunia yang katanya luas ini, kita hanya memiliki sepetak dan kita hanyalah seonggok kecil yang tak terlalu ada arti. Tapi pentingkah menjadi berarti?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s