Sirkus

Beberapa hari lalu saya menonton perhelatan sirkus kontemporer asal Prancis di Taman Budaya Yogyakarta bersama dua orang kawan yang berkuliah di kota itu. Kami sekedar menghabiskan waktu, mencoba mencari kegiatan pengisi malam dengan menikmati seni yang gratis. Maka meluncurlah kami ke lokasi, mengantre pintu dibuka, mencari kursi di bagian depan, dan duduk manis.

Sebelumnya saya belum pernah menonton sirkus. Jadi, layaknya sebuah pengalaman pertama, hal ini cukup mengasyikkan. Namun karena saya tak pernah menonton sirkus, saya bingung bagaimana untuk menikmatinya. Maka, saya menyaksikannya seperti menonton teater. Saya memperhatikan tiap detil gerakan, bunyi, sorot lampu, dan dengan segera membentuk interpretasi-interpretasi di kepala.

Interpretasi saya tak penting. Sirkus tersebut yang jelas bicara tentang musim semi di Prancis, sesuai dengan yang dikatakan seorang bule sebelum sirkus dimulai. Hal lain yang saya tangkap adalah tentang desa-kota, tradisional-urban, dan dikotomi sejenis. Lewat simbol kemunculan replika gedung yang muncul dari atas ke bawah di tengah-tengah acara, saya melihat sirkus ini sebagai perdebatan desa-kota itu.

Namanya juga interpretasi, bisa saja ia muncul dari stok pikiran saya yang terbatas. Lewat gerakan-gerakan pemain sirkus, tampak sekali bahwa situasi sebelum gedung itu muncul dan setelahnya berbeda. Sebelumnya, gerakan dan musik lebih santai, mengalun tenang, pelan, dan tak buru-buru. Setelah gedung muncul, gerakan mendadak cepat, musik pun demikian, lalu-lalang ala orang urban yang sibuk diperagakan di atas pentas.

Beberapa gambaran interpretasi lain pun muncul, namun yang diatas yang paling mengena buat saya. Tapi selain itu ada hal lain yang penting dari sirkus tersebut. Setelah keluar gedung pertunjukan, saya jadi ingat pada suatu waktu, beberapa bulan silam, saya pernah bangun pada siang hari  dan terpikir untuk lebih banyak menikmati kesenian setelah lulus nanti. Saya pun lantas terpikir untuk mencoba tinggal di Jogja atau Bali karenanya.

Lewat sirkus itu, saya mengingat lagi janji itu, bahwa pada suatu waktu nanti saya akan lebih sering menonton musik, teater, galeri lukisan, sirkus, wayang, tarian, pembacaan puisi, atau hal-hal lain yang bersifat seni. Saya tahu hidup cuma sekali dan olehnya saya ingin mengisinya dengan sesuatu yang indah, artistik, dan puitik, tak melulu teori dan eksplanasi yang ujung-ujungnya tak menjelaskan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s