Kesadaran

Mari bicara tentang kesadaran. Lalu tentang kesadaran palsu. Bagaimana kita tahu sesuatu kesadaran palsu? Jangan-jangan yang namanya kesadaran selalu palsu. Jadi kesadaran tentang kesadaran palsu juga merupakan kesadaran palsu. Semua yang ada di dunia adalah tentang penerapan kesadaran dari satu posisi ke posisi lain, dari obyek ke subyek, dari subyek ke obyek, dari obyek ke obyek, dari subyek ke subyek.

Maaf jika ingin muntah. Saya muak dengan pikiran di kepala sepanjang hari ini. Saya percaya menulis adalah jalan yang terang, atau lautan lepas tempat segala muntahan menjadi saru, tak berbekas. Maka saya menulis ini. Seperti biasa, saya tak mengharap dimengerti. Karena segala kegiatan penulisan bagi saya adalah tentang pelepasan, bukan pencitraan, bukan pembacaan, bukan apapun.

Ceritanya saya sedang menulis tulisan yang pesimis tentang kesadaran palsu: bahwa suatu kelompok sosial (atau semua orang!) adalah hasil manipulasi, hasil hipnotis dari sebuah sistem yang mengaburkan kesadaran dan membuat semua mengalami halusinasi dan memelihara kesadaran yang palsu. Kesadaran semacam itu bisa timbul dan datang dari manapun. Saya ulangi, dari manapun!

Tapi ketika saya mengklaim seseorang atau sekelompok orang menderita kesadaran palsu karena saya lebih banyak membaca dan tahu tentang teori-teori, atau tentang apa yang mereka tidak tahu, atau tentang dogma, ajaran, dan pemikiran, maka saya ragu. Jangan-jangan segala teori, dogma, ajaran, atau omong kosong yang saya baca, dengar, pelajari, percayai, jangan-jangan juga menaruh kesadaran palsu dalam diri saya.

Misal, saya mengklaim sebuah masyarakat adalah pelaku konsumerisme yang patuh pada sistem-sistem kapitalisme. Mereka membeli sampai mati. Lalu saya merasa mereka sedang terpengaruh dan sadar secara palsu. Perasaan itu timbul karena saya banyak membaca, misalnya. Lantas sebenarnya kesadaran saya tentang sekelompok orang yang saya klaim memiliki kesadaran palsu jangan-jangan sama saja. Palsu.

Akhirnya semua menjadi nihil. Semua sama dalam balutan yang tak asli, penuh halusinasi dari mana-mana, dari buku, majalah, koran, televisi, reklame, disertasi, jurnal, orang lain, orang asing, lautan, gunung, perempuan, laki-laki, segalanya. Mungkin seharusnya kita tak harus percaya pada apapun, kecuali keyakinan bahwa segala sesuatu selama masih di bawah langit adalah kesia-siaan. Bangsat.

Advertisements
Posted in ide

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s