Daun-daun yang Gugur

Tak ada sore yang lebih indah dari jalanan dan wangi lautan di sisi mata. Memandangi langit yang rintik sambil berlarian dengan teknologi buatan Jepang. Kita terpisah ribuan kilometer. Dan keterpisahan itu abadi. Sejak siang itu, atau mungkin siang-siang sebelumnya, jarak akan selalu ada. Sedangkan semua rasa yang pernah menggila tinggal sisa-sisa airmata.

Pernah satu kali di lautan bayangan wajah itu menempel di cakrawala, membentuk semacam siluet yang membikin getir sekaligus membuat gigil. Sekujur badan. Rambut yang terurai dan senyum yang menyimpul itu adalah kekhasan yang tak ada dua. Lantas kapal bergerak, mengejar labuhan, ditabrak angin. Bayang itu lepas seiring suara burung laut membuat siul-siul yang menambah kepiluan.

Sayang sekali hidup terlalu buruk untuk menjadi buruk. Maka berkompromi dengan semesta adalah keharusan yang menyakitkan. Selamanya tak akan ada lagi kata-kata. Sesudah ini yang benar-benar nyata hanyalah penyesalan yang total dan kepasrahan pada matahari. Sementara senja menggurat, wangi itu akan selalu bertebar, menusuk sanubari.

Suatu siang, kaki melangkah berlangkah-langkah, memasuki hutan dekat kolam yang jorok di suatu jalanan penghubung kota-kota yang sunyi. Barisan pohon tertawa memandangi seorang yang sedang patah hatinya oleh ketololan bikinan sendiri. Daun-daun yang gugur tiba-tiba saja membentuk bait-bait puisi yang remuk. Menciptakan kesenduan yang berbekas hingga entah kapan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s