Keluhan tentang Keluhan

Di suatu malam yang pucat, setelah gelas-gelas alkohol, sebuah tweet seorang senior tampil di depan mata saya, kurang lebih berbunyi begini: Jakartans emang tolol ya, tiap hari ngeluh macet tapi tiap ada mobil keluaran baru langsung dibeli. Oke, kata tolol itu memang saya tambahkan sendiri sesuka hati. Menyebut orang Jakarta sebagai orang tolol memang tak terasa sebagai sebuah dosa.

Tadi pagi saya bangun dengan cara yang eksentrik. Belum sempat melek, otak saya sudah memikirkan tentang ide konsumerisme. Keren dan patut dikasihani, bukan? Saya tak tahu persis kenapa hal itu terjadi: mungkin tadi malam alam bawah sadar saya menyimpan konsepsi itu seraya alam sadar saya mengetik kata-kata konseptual tentang budaya massa, gaya hidup, konsumsi, dan tetek-bengeknya.

Atau mungkin juga karena tiba-tiba saat terbangun saya over-heard percakapan di luar kamar. Seseorang berbicara tentang mobil, lalu tentang membeli. Saya tak tahu persis apa topik yang sebenarnya dibicarakan. Tapi omong-omong tentang membeli mobil membawa kegelisahan saya yang masih samar-samar menjadi semakin jelas. Saya bangun dengan mengucek mata, mengira semua mimpi.

Namun, Jakarta yang macet yang penuh mobil, yang orang-orangnya sedang terkena euforia pertumbuhan ekonomi dan sedang gila-gilanya mengonsumsi tanda-tanda, yang ketika ada mobil keluaran baru langsung menuju showroom dan menukarnya dengan uang, yang mengeluh tentang macet namun makin menyuburkan kemacetan dengan mobil tergres yang baru mereka beli: itu semua bukan mimpi.

Cerita soal Jakarta dan Jakartans memang sudah bosan saya tulis. Tapi saya tak pernah punya alasan untuk berhenti, mungkin karena saya belum menemukan penyaluran atau melihat cahaya atas awan kelabu yang menggelayut. Semua keluhan saya memang tak ada artinya, mengingat setiap hari milyaran mobil tetap terbeli di bawah langit ibukota. Sama tak ada artinya dengan keluhan para Jakartans yang merengek tentang macet di dalam kenyamanan kereta kencana bermerk Jepang atau Eropa.

Ketidakberartian saya makin terasa karena saya bukan superman yang bisa meledakkan seluruh jalanan ibukota yang merembet hingga ke kota tempat saya hidup dari kecil, yang secara geografis bukan bagian Jakarta, tapi secara kultural ia adalah Jakarta. Maka ketika saya marah, saya terasa seperti seorang masokis yang menikmati penderitaan perasaan yang tak terobati.

Jakarta akan tetap gila, seperti biasa. Jakartans akan tetap tolol, seperti biasa. Saya akan tetap mengeluh, seperti biasa. Atau, mungkin suatu waktu saya akan berkesempatan menuliskan keluhan-keluhan lain tentang kehidupan Jakarta melalui gadget keren di tangan saya, saat saya sedang berhenti menyetir di dalam mobil yang lux, di tengah rimba Sudirman di Jumat malam yang legendaris itu. Semoga tidak. Tidak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s