Kegilaan

Selama ini rupanya kita tetap terpasung dalam sistem gila yang membuat hidup yang harusnya indah jadi semacam muka artis ibukota yang dicat dengan make-up tebal nan norak. Kita terdiam saja dalam kenikmatan yang membelenggu, yang menjadikan kita keren, dengan predikat-predikat yang sanggup membuat kita dipandang sebagai subyek (atau obyek) yang mengikuti tren, atau menentang tren dengan cara yang trendi.

Dan kita tetaplah segerombolan omongkosong yang manis, yang penuh kepura-puraan dalam memandang langit dan muka orang lain. Kita sebenarnya sedang berjalan tanpa arah menuju sesuatu yang diarahkan, mencapai ketiadaan dengan raut muka yang diada-adakan. Tersisalah kebanalan yang sempurna dari struktur tubuh manusia tolol yang sedang pura-pura mengejar sukses di dalam sistem pura-pura yang penuh mimpi dan fantasi artifisial.

Ketololan yang kita lakukan ini adalah akumulasi dari berbagai hal. Mulai dari kita kecil dan masih menetek hingga bisa menulis dengan jari-jari di gadget mahal yang mentereng dan ditenteng kemana-mana, kita sudah membiasakan diri, atau dibiasakan, dengan kegilaan yang lambat laun akan disadari sebagai luka. Tapi kesadaran itu tak mutlak milik semua orang, hanya punya sebagian yang ingin kritis dan berani dianggap gila oleh orang gila yang menikmati hidup di sistem yang gila.

Dalam segala awan hitam yang mendung tapi tak hujan-hujan ini, kita semua sedang tiarap dalam penipuan masing-masing terhadap dirinya sendiri. Kita sedang menerka seperti apa hari esok, mendesainnya dengan gumpalan kata-kata motivasi yang seragam, hingga kita semua tanpa sadar menjadi produk yang tak ada beda satu sama lain di dalam kehidupan yang aneh ini: tempat dimana keberagaman dan keseragaman hidup bersama.

Semua sama saja. Baik yang patuh dengan terang-terangan pada kegilaan yang kosong dan banal itu, maupun yang berusaha berontak dengan memakai tanda-tanda tertentu agar terlihat oleh apa yang mereka anggap kosong dan banal itu. Semua akhirnya akan berakhir dalam kebanalan masing-masing, dalam ketelanjangan masing-masing yang tak lantas membuat malu, hanya sepotong sesal yang hanya di bibir saja. Lalu bergila-gilaan lagi.

Advertisements
Posted in ide

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s