Mencintai Che

“…bahwa dalam setiap era akan ada museum-museum untuk mewakili kerinduan semua orang akan masa lalu.” 

Suatu siang yang terik di Yogyakarta saya hendak menuju Solo. Sebelum mencapai Stasiun Tugu, saya ditemani seorang kawan terlebih dulu menuju Taman Pintar. Saya hendak mencari buku untuk menemani perjalanan selama di kereta. Tak butuh waktu lama untuk mendapatkan buku yang pas. Hanya satu dua kios saya melihat buku bersampul merah dengan wajah Ernesto Guevara. Judulnya Mencintai Che.

Mencintai Che ditulis oleh Ana Menendez, seorang jurnalis dan penulis berdarah Kuba yang lahir dan besar di Amerika. Enam tahun sebelum ia lahir, orang tuanya pindah ke California sebagai bagian dari eksodus besar-besaran orang Kuba ke Amerika Serikat. Latar belakangnya sebagai ‘orang buangan’ asal Kuba itu pada akhirnya menjadi latar penting novel pertamanya ini.

Menendez mengambil sudut pandang orang pertama pada novel ini, seakan-akan kisah ini murni tentangnya. “Aku” dalam novel itu adalah seorang perempuan yang tinggal di Amerika Serikat dan berdarah Kuba, persis seperti penulisnya. Dikisahkan sejak kecil ia tinggal bersama kakeknya di Miami. Ia tidak pernah mengenal kedua orang tuanya. Ibunya memberikannya pada kakeknya sejak masih bayi.

Ia terus menanyakan pada kakeknya tentang ibunya. Kakeknya terus menutupi, hingga suatu waktu. Ibunya memberikannya pada kakeknya dengan sebuah pesan yang ditaruh di saku bajunya. Pesan itu ditulis di sepotong kertas, tertulis penggalan puisi Pablo Neruda, penyair asal Cile itu: “selamat tinggal, tapi kau akan selalu bersamaku, kau akan selalu ada dalam setiap darah yang mengalir dalam diriku.”

Selanjutnya sang kakek meninggal dan ia melupakan apa-apa tentang ibunya, menganggapnya sebagai masa lalu yang tak penting. Tapi pada suatu hari, ia mendapat kiriman paket misterius. Paket tersebut berisi foto-foto dan surat-surat yang usang. Lewat kumpulan foto dan surat itu ia lantas kembali tertarik pada pusaran masa lalunya. Surat-surat itu tentang ibunya, tentang “darah yang mengalir dalam dirinya”.

Surat-surat itu ditulis oleh seorang perempuan Kuba bernama Teresa de la Landre. Ia hidup di kawasan Havana, berprofesi sebagai pelukis, dan menikahi seorang bernama Calixto de la Landre. Teresa dikisahkan adalah ibu dari si tokoh utama tersebut, yang menuliskan surat-surat itu sebagai pesan untuk anaknya. Ia menuliskan surat-suratnya dalam bentuk semacam catatan harian.

Isi surat-surat itu menguak berbagai hal tentang Teresa. Tapi hal yang terpenting adalah tentang hubungannya dengan seorang revolusioner bernama Che Guevara. Meski sudah bersuami, Teresa diceritakan sering bercinta dengan Che di studio lukis miliknya. Hubungan asmara Teresa dan Che lantas membangun inti cerita, yaitu dugaan bahwa si tokoh utama merupakan anak dari Che yang masyhur itu.

Setelah si tokoh utama menyelesaikan membaca surat-surat tersebut, ia kemudian tergerak untuk menyelidiki masa lalunya. Ia menuju Havana dan berusaha mencari tahu tentang seorang bernama Teresa yang hidup sekitar masa sebelum dan setelah revolusi Kuba. Dalam pencariannya ia mengalami keputusasaan akut hingga hampir menyerah. Tapi pada suatu titik seorang misterius memberikan padanya secercah cahaya.

Adalah seorang perempuan tua yang dikisahkan pernah bekerja untuk Teresa yang menjadi cahaya itu. Lewat anaknya, ia memberika kertas berisi puisi Neruda dengan tulisan tangan yang mirip dengan yang diberikan kakeknya. Ibunya ternyata sudah meninggal dunia. Setahun sebelum meninggal ia menulis surat-surat itu untuk anaknya sebagai fragmen masa lalu yang suatu saat mungkin akan dimengerti anaknya.

Lalu apakah Che merupakan ayahnya? Si perempuan tua mengatakan, “ibumu sangat mencintai Che Guevara, ya, kami semua mencintainya. Ia lalu melanjutkan, “tapi ibumu tidak pernah bertemu dengannya, dia pasti akan mengatakan padaku jika pernah bertemu.” Pada akhirnya misteri terkuak. Che bukanlah siapa-siapa baginya, kecuali seorang asing nan tangguh yang membuat bangsanya menjadi bebas.

Novel ini lalu diakhiri dengan kisah si tokoh utama di sebuah toko antik di Paris yang menjual foto-foto tua. Di toko itu ia mendapatkan foto seorang pria berbaju prajurit dengan tangannya menunjuk ke kamera. Ia lalu membayar untuk foto itu, foto Che Guevara. Pada kalimat terakhir, ia menjelaskan tentang foto itu, “seorang asing yang tampan yang, dalam mimpi lain, mungkin menjadi ayahku tercinta.”

Novel ini pada akhirnya adalah paduan yang indah dan puitis tentang cinta, keluarga, pengkhianatan, revolusi, orang buangan, masa lalu yang samar, mimpi, ikon legendaris, dan ketidakjelasan. Novel ini toh pada akhirnya tak menjadi jelas. Kita tak tahu siapa tokoh utama yang memang tanpa nama itu, tidak tahu kenapa ibunya menuliskan cerita bohong tentang hubungannya dengan Che, bahkan tidak tahu apakah Teresa benar ibunya.

Kita hanya jadi tahu bahwa masa lalu adalah hal yang rumit. Itu saja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s