Tulisan yang Tak Perlu Dibaca

Saya bangun siang lagi, bahkan menjelang sore. Olehnya saya jadi rindu matahari pagi, yang menyengat, membikin keringat. Juga, saya mungkin rindu kuliah pagi: bangun dengan malas, mandi dengan malas, sarapan dengan malas, mengendarai motor hingga kampus untuk mendengarkan omong kosong, tapi kuliah pagi membuat saya akrab dengan matahari yang masih muda. Kini, di tingkat akhir, saya seperti kehilangan sesuatu.

Bangun siang memang bukanlah dosa, tapi rutinitas semacam ini membuat hari menjadi pendek. Hal itu sebenernya baik dalam filsafat hidup santai dan tanpa tujuan, tapi dalam rute menuju lulus, bangun siang sama saja dengan memangkas satu atau dua halaman skripsi per hari. Saya tak tahu kemana rangkaian kemalasan ini akan bermuara: sarjana atau semester baru. Atau kemuakan.

Seperti hari kemarin, saya mencoba disiplin setelah bangun terlampau siang. Mencuci muka, minum dan sedikit makan roti, lalu duduk rapi di depan komputer. Merangkai baris demi baris yang mungkin tak berarti, mungkin berarti, siapa peduli. Menjelang senja, saya mulai kepayahan, maka saya mandi untuk mencari apa yang disebut dengan kesegaran. Lalu saya memanaskan mobil dan menuju suatu tempat.

Saya mencapai toko buku. Tak ada alasan jelas saya menujunya. Saya tak ingin mencari buku apapun untuk dibaca, saya sedang muak dengan buku-buku. Maka saya hanya mengunjungi rak majalah, sekedar melihat tanpa membeli. Lalu saya sempatkan mencapai rak buku-buku tentang traveling, yang ini untuk alasan bernama skripsi. Lalu saya pulang dengan tangan kosong. Saya percaya, mengunjungi toko buku adalah semacam wisata.

Setelah pulang, saya memarkir mobil di depan rumah tetangga. Nanti malam saya ingin keluar lagi dengan alasan mencuci mobil yang oleh karena kemalasan saya, ia sudah tak dicuci selama sebulan, mungkin dua bulan. Saya masuk ke rumah, makan malam, lalu masuk ke dalam kamar. Disitu saya sedang duduk menuliskan ini semua. Setelah ini mungkin saya akan melanjutkan transkripsi wawancara.

Esok hari mungkin akan seperti hari ini lagi, dengan waktu bangun yang mirip, dengan aktivitas yang sama, mungkin dengan eskapisme yang agak beda. Setelah toko buku, saya tak tahu besok akan melakukan apa untuk hiburan di sela-sela terpaan cahaya komputer. Mungkin membaca, menonton, atau sekedar mengendarai motor tak jelas arah tujuan. Atau mungkin juga esok saya akan menuliskan racauan seperti ini lagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s