Ende

Suatu siang saya dan seorang kawan perjalanan berambut gondrong dan kusut berjalan tak jelas arah. Tujuan kami mencari tahu dokter di kota kecil ini dan mengetahui letak gereja serta jam ibadahnya. Di bawah terik yang menyengat kami berjalan cukup jauh, lalu kemudian menaiki angkot untuk menyerah pada matahari.

Setelah tahu dimana dokter dan letak gereja, kami menuju salah satu landmark paling tenar di Ende: rumah pengasingan Bung Karno. Sayang, kami datang di hari minggu. Bangunan bersejarah itu sepertinya diliburkan, atau mungkin kami yang kurang beruntung karena kebetulan penjaganya sedang tidak ada. Entahlah.

Kami lalu menuju tempat lain yang masih berhubungan dengan Soekarno. Dengan berjalan pelan dan agak payah, kami mencapai taman renungan Bung Karno. Semacam taman kota yang rindang dan teduh, yang konon di salah satu pohon disitulah Bung Karno senang merenung, mungkin tentang kehidupan, mungkin tentang Pancasila.

Berdasarkan cerita sejarah, Ende memang sering dicap sebagai rahim Pancasila. Akibat kebiasaan merenung di salah satu pohon disana, Bung Karno mendapat ilham soal ide Pancasila. Cerita selanjutnya adalah sejarah. Pancasila abadi hingga kini, bahkan saat pohon bersejarah itu sudah mati dan diganti dengan pohon dari bibit lain.

Saya memandangi areal Bung Karno merenung itu. Sebatang pohon yang dipagari tembok, entah untuk apa, pengingat atau sekat. Saya membayangkan Bung Karno sedang duduk diatasnya, atau dibawah rimbunnya, dengan pandangan ke arah lautan, memikirkan tentang ini dan itu, tentang negara, cinta, perempuan, Flores, Tuhan, dan segalanya.

Dalam proses itu mungkin saya agak merinding, saya lupa. Tapi yang tak akan bisa saya lupa adalah: kepala saya tiba-tiba saja memutar Redemption Song milik Bob Marley, dan bibir saya tanpa perintah pun berkumandang pelan. Saya tak percaya kebetulan. Maka ketika Soekarno dan Redemption Song bersatu padu, maka itulah takdir.

Sebelum beranjak pulang, saya menengok sekali lagi ke arah pohon itu. Saat itu imajinasi saya makin liar. Saya masih melihat Soekarno tertegun dengan tatapan kosong penuh pikiran. Disampingnya seorang berambut gimbal menyanyikan lagu usang sambil menghisap mariyuana. Ah, para pemberontak, para pembebas.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s