Kayangan

Saya baru saja memarkir mobil berusia 31 tahun itu di depan rumah, di bawah temaram lampu di kala langit gelap. Kemudian saya membuka pagar dan berjalan. Dalam proses itu pikiran saya secara acak mengingat suatu tempat bernama Kayangan. Pelabuhan di timur Lombok itu tiba-tiba saja mencuat dalam bayang pikiran, menenggelamkan saya dalam imajinasi masa lalu.

Pada sebuah sore yang hampir tua, saya memasuki pelabuhan itu dengan bus yang nantinya akan membawa menuju Taliwang, sebuah kota di Sumbawa. Sejak awal perjalanan saya selalu penasaran seperti apa tempat bernama Kayangan ini. Bayangkan namanya: Kayangan. Apakah ia seperti surga, dengan bidadari yang menari-nari, atau sepotong awan yang membikin keabadian di mata?

Akhirnya yang tersisa adalah kebungkaman. Nyatanya, Kayangan mungkin lebih indah dari imajinasi saya tentang surga itu. Saya memasuki kapal yang akan menyebrang dari Tanah Sasak menuju Tanah Samawa. Selanjutnya, sisa cerita adalah tentang lukisan yang begitu indah. Langit sedang biru, sedang sang Rinjani yang agung tepat berada di depan mata, membentuk semacam bengong yang tak pernah meleleh.

Rupanya Tuhan belum selesai memberi kebaikan pada saya di sore yang lantas makin menua. Selengkung pelangi kemudian menghiasi panorama di senja yang menenangkan di atas feri itu. Pemandangan Rinjani dan pelangi rasanya cukup untuk bersyukur pada yang empunya bumi. Langit kemudian menggelap, kapal pun melaju menuju timur. Rinjani menghilang dalam kabut, juga pelangi yang memudar ditelan jarak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s