The Beach

Suatu waktu saya pernah meminjam dvd film The Beach dari seorang teman. Saya menontonnya begitu saja, menikmati setiap detil tanpa banyak pikir. Film tenar yang dibintangi Leonardo Di Caprio itu berkisah tentang seorang backpacker yang sedang melancong ke Thailand. Disana, si petualang Amerika itu mendapatkan tak sekedar perjalanan biasa. Layaknya seorang backpacker, selalu ada yang lebih dari sekedar perjalanan.

Waktu kemudian berlalu hingga suatu sore sebuah stasiun televisi kabel khusus film menayangkan The Beach. Saya menontonnya untuk kali kedua. Tapi di kesempatan kedua itu saya berpikir lebih banyak dibanding saat menonton pertama kali. Terlalu banyak hingga bahkan masih terpikir hingga detik ini, mungkin 3 bulan setelahnya. Banyak yang mengusik saya soal film itu, mulai dari imaji surga, terminologi backpacker, hingga Redemption Song.

Katakanlah, The Beach memang salah satu film terbaik tentang backpacking yang pernah saya nikmati. Dari awal kisah saja sudah ditunjukkan imej backpacking yang dikonstruksi orang-orang dari Barat sana. Richard, si backpacker, ditantang oleh seorang warga lokal di Bangkok untuk menikmati kuliner yang tak biasa: darah ular. Awalnya ia menolak, namun setelah diejek sebagai turis, ia tak terima, lalu menyanggupi tantangan itu.

Terma backpacker memang seringkali menempatkan dirinya dalam oposisi dari turis. Backpacker adalah model berwisata yang merupakan alternatif dari turisme arus utama. Di dalamnya terkandung nilai, norma, aturan yang tak tertulis tentang banyak hal yang menjadikan backpacker sebagai oposisi sejati dari turis. Memang pemisahan keduanya bukan sesuatu yang kaku dan kadang keduanya membaur. Tapi tetap saja, mereka bertentangan.

Cerita kemudian beranjak menuju awal dari inti cerita. Richard dalam sebuah adegan yang agak sureal mendapatkan peta tentang sebuah pantai cantik dari tetangga di sebelah kamar hostelnya. Pantai ini merupakan pantai tersembunyi yang tak banyak orang tahu, serta bukanlah destinasi yang biasa dipadati turis. Plot ini sekali lagi kembali menunjukkan imej backpacker: mereka yang mencari lokasi-lokasi yang berbeda dari para turis.

Seorang backpacker memang dianggap sebagai pelancong yang tak biasa, termasuk urusan destinasi. Dari sejarahnya, backpacker ialah mereka yang mencari tempat-tempat yang ‘perawan’, yang masih belum terjamah, yang masih polos dan apa adanya. Sekali lagi, ciri ini menentang habis-habisan konsepsi turisme mainstream yang biasa identik dengan destinasi yang sesak, padat, dan itu-itu saja.

Kisah lalu berlanjut. Richard akhirnya dapat mencapai pantai di pulau yang tersembunyi yang ia ketahui dari peta itu. Bersama dua orang teman sesama backpacker, Richard melakukan perjalanan tak biasa untuk mencapai pantai cantik itu. Disana, konflik cerita yang paling mengusik saya hingga detik ini terjadi, yaitu perihal imaji tentang surga di bumi dan keinginan untuk menjaganya tetap surgawi.

Dalam pulau itu rupanya terdapat suatu perkumpulan kaum eksentrik, kebanyakan backpacker dan semacam hippie, yang menetap di pulau tersebut. Bukannya melancong dan kemudian pulang, mereka memilih tinggal lama didalamnya, hidup dalam persekutuan para backpacker, para pejalan yang tak biasa. Mereka semua menganggap pulau itu ialah surga yang harus dijaga keberadaannya, serta kerahasiaannya.

Para anggota perkumpulan tersebut dilarang keras untuk memberitahukan pada siapapun tentang keberadaan pulau itu. Mereka tak ingin tempat yang mereka anggap surga itu jadi ramai, jadi penuh sesak oleh pelancong, jadi tak lagi seperti surga. Mengutip Theroux, saat suatu tempat dianggap sebagai surga maka tak lama kemudian ia akan jadi neraka. Demikianlah sehingga perkumpulan itu nyatanya seketat penjara demi sebuah rahasia soal surga.

Tak boleh ada yang keluar pulau kecuali seijin ketua perkumpulan, itu pun hanya untuk membeli keperluan sehari-hari di kota. Maka kerahasiaan pulau itu pun tetap terjaga. Ironi bagi saya adalah ketika membayangkan bahwa untuk sepotong surga orang ingin menyimpannya sendiri dan tak ingin orang lain tahu, menikmatinya secara egois dan tak mau orang lain mencicipinya pula. Surga perlahan jadi konsepsi yang banal di film ini.

Tapi begitulah, film ini memang menggambarkan tentang backpacker yang ‘sebenarnya’. Mereka yang enggan membagi keindahan karena ketakutan bahwa yang indah itu nantinya akan menjadi rusak jika terlalu massal dinikmati. Saya lantas terombang-ambing dalam posisi yang tak jelas. Satu sisi saya miris membayangkan keegoisan memiliki surga itu, tapi di sisi lain saya pun setuju bahwa sebuah surga nyatanya harus disimpan agar tak cacat.

Film itu lalu berjalan menjadi sedikit liar dan makin sureal, meski tetap menarik hingga akhir. Perkumpulan itu dikisahkan mesti bubar karena satu dan lain hal. Masing-masing mereka pun pulang ke tempat asalnya. Di adegan akhir, Richard yang sudah di Amerika membuka surat elektroniknya dan mendapat email dari teman sesama anggota perkumpulan itu. Isinya sebuah foto yang menyimpan kenangan yang abadi.

Advertisements

One thought on “The Beach

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s