Bukan Untuk Siapapun

Kita pernah terjebak dalam romantisme tentang air dan api, tentang bagaimana kesatuan hanyalah omong kosong yang tak mungkin, sedang kesunyian harapan tak menemui tempatnya dalam ruang-ruang yang tak menghendaki perbedaan. Kita memang selamanya akan terkurung dalam asa yang sia-sia. Satu-satunya jalan keluar adalah menjadi pecundang yang payah, keluar dari medan perang dan merangkul ekspektasi orang banyak.

Sedari dulu beberapa langkah yang salah dan keliru memang terlanjur dijejak, sehingga barisan kata-kata ini nyatanya hanya segumpal debu yang tak ada arti. Kita sudah terlanjur lecek dan usang seperti buku-buku jaman purba yang terlupakan di lemari tua yang reot. Cara apapun untuk membuatnya baru lagi mungkin hampir jadi semacam usaha mencari jarum dalam tumpukan jerami. Mustahil memang, tapi tak bolehkah ada secercah harapan?

Menyoal harapan memang kita sering terbentur pada kontradiksi kuno tentang bagaimana harapan harus ditempatkan dalam kepercayaan: sebagai pemantik hidup atau penghambat yang menyusahkan. Banyak yang percaya bahwa harapan sebagaimanapun goyahnya haruslah tetap ada. Namun sebagaian lain yang tak kalah banyak menganggap harapan sebagai bahaya laten yang perlahan akan menusuk hingga kedalaman ulu hati. Jadi bagaimana?

Sekarang baiklah kita melupakan teori tentang harapan itu dan berpijak pada kenyataan yang sebenar-benarnya, bahwa waktu berdetak seraya berjalan maju. Salah satu dari kita mungkin telah bergerak untuk menyongsong matahari, sedang yang lain masih tertegun memandangi pelangi yang indah dalam ingatannya sendiri. Kita perlahan berjarak terlalu jauh hingga rangkaian cerita memang sepantasnya dirobek dan dibuang layaknya naskah yang gagal.

Kita nyaris tak akan pernah tahu apa yang ditawarkan masa yang akan datang. Mungkin saja sesuatu yang dipercayai para romantik akan terjadi, bahwa masa lalu dan masa depan bersatu dalam balutan yang cantik. Namun sebaiknya kita lupakan angan-angan romantis itu dan berpikir dengan agak logis seperti telah diajarkan sekolah pada kita. Seraya mengambil jarak pada harapan, kita harus bernafas dengan sedikit lega untuk hari ini saja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s